Paska Penangkapan Rudi, Riau Berpeluang Ambil Alih Blok Siak dari Chevron

Foto : csrriau.com

Pekanbaru, Sayangi.com – Penangkapan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini yang terlibat kasus suap oleh KPK, membuka peluang bagi Pemprov Riau mengambil alih pengelolaan Blok Siak dari PT Chevron Pasifik Indonesia

“Iya, saya kira seperti itu (penahanan Rudi oleh KPK). Kami tetap berupaya maksimal agar pengelolaan blok tersebut bisa diambil melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),” ujar Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdaprov Riau, Emrizal Pakis di Pekanbaru, Kamis (22/8).

Sekarang, lanjutnya, Pemprov Riau akan mengajak pemerintah daerah kabupaten di Riau dan BUMD bernama PT Riau Petroleum untuk dapat meneruskan usulan pengelolaan Blok Siak ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Karena masih punya waktu sampai Oktober 2013, sebelum diputuskan Kementerian ESDM menyangkut pemenang tender pengelolaan Blok Siak apakah jatuh lagi ke tangan PT Chevron Pasific Indonesia atau perusahaan migas nasional atau BUMD.

Ladang minyak di Blok Siak mampu menghasilkan minyak mentah sekitar 1600 sampai 2.000 barel per hari dan berada di empat kabupaten di Riau yakni Kampar, Bengkalis, Rokan Hulu serta Rokan Hilir.

Terhitung sejak November 1991, Blok Siak dikuasai Chevron, raksasa perusahaan Migas asal Amerika Serikat. Kontrak Chevron berakhir pada 27 November 2013 ini.

“Jika PT Riau Petroleum dapat mengambil pengelolaan Blok Siak, maka BUMD tersebut harus memberi keuntungan dan dapat menambah pundi-pundi dana APBD baik di provinsi maupun kabupaten,” katanya.

Sebelum ditahan KPK, Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini mengusulkan Blok Siak sebaiknya dibagi tiga berdasarkan kapasitas operasi wilayah kerja dan pengelolanya yaitu kontraktor kontrak kerja sama, perusahaan migas nasional dan BUMD.

“Blok yang masih aktif berproduksi sebaiknya diteruskan saja pengelolaannya oleh PT Chevron Pasific Indonesia, sedangkan wilayah kerja yang tidak aktif diserahkan ke perusahaan migas nasional,” cetus Rudi sebelum diciduk KPK.

Kini KPK telah menetapkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini sebagai tersangka penerima suap terkait lingkup kewenangan di tempatnya bekerja pada Rabu (14/8).

Penyidik KPK melakukan penangkapan terhadap Rudi Rubiandini yang diduga menerima suap 700 ribu dollar AS dikediamannya Jakarta pada Selasa (13/8) pukul 22.30 WIB dan dua orang yakni Simon Tanjaya dari perusahaan Kernel Oil serta Deviardi.

Lembaga anti rasuah itu terus mendalami dan mengembangkan kasus suap baik dari sisi penerima ataupun pemberi serta belum menyimpulkan apakah sumber uang suap untuk Rudi dari perusahaan ataukah dari perorangan. (Ant)