LIMA: Kriteria Calon Peserta Konvensi Demokrat Buram

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Komite Konvensi sudah menerima beberapa nama calon peserta konvensi dari Majelis Tinggi Partai Demokrat. Nama-nama calon peserta konvensi itu diantaranya adalah Dino Patti Djalal, Gita Wiryawan, Chairul Tanjung, kepala daerah seperti Isran Noor, perwakilan dari tentara seperti Endriartono Sutarto, Djoko Santoso, bahkan ipar SBY sendiri Pramono Edhie Wibowo

“Beberapa nama yang disebut-sebut telah diserahkan oleh Majelis Tinggi kepada Komite Konvensi sebagai calon peserta konvensi memperlihatkan buramnya kriteria-kriteria calon peserta konvensi,” kata Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, Kamis (22/8).

Menurut Ray, sejak awal ketertutupan panitia konvensi menimbulkan spekulasi bahwa mereka yang akan diundang ke konvensi Partai Demkrat akan lebih banyak didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan subjektif. Setidaknya dari nama-nama yang disebut-sebut telah diserahkan ke Komite memperlihatkan adanya kelonggaran kriteria sekaligus ketertutupan peserta.

“Longgar karena pada dasarnya siapapun bisa masuk, tapi tertutup karena akhirnya subjektivitas sepihak Majelis Tinggilah yang akan menentukan,” pungkasnya.

Menurut Ray, jika Komite Konvensi tetap tak mengumumkan kriteria-kriteria tersebut maka ketertutupan dan subjektivitas akan makin menebal. Tak jelas apa saja yang menjadi dasar pertimbangan Majelis Tinggi sehingga nama-nama calon peserta konvensi dapat masuk sebagai peserta konvensi untuk menjadi calon presiden pada Pilpres 2014 yang akan datang.

“Apakah ukurannya pada popularitas, elektabilitas, prestasi-prestasi politik atau sosial, pengalaman dalam politik atau organisasi-organisasi, adanya basis massa, memadainya dana, aksesnya yang luas terhadap media, visi-visi ke Indonesiaannya, atau semata karena dekat secara personal kepada Majelis Tinggi atau karena adanya hubungan kekerabatan,” katanya.

Jika menilik kepada nama-nama yang disebutkan, Ray mengatakan, nampak terlihat unsur kedekatan personalnya yang jauh lebih menonjol. Pramono Edhi, Dino Patti, dan Gita misalnya adalah nama-nama yang sepertinya terpilih dicalonkan karena kedekatan personal dengan ketua Majelis Tinggi. Lebih khusus pada Pramono karena merupakan adik ipar SBY. Begitu juga dengan Isran Noor, nampak seperti terlalu dipaksakan.

“Mungkin maksudnya untuk memberi kesan adanya perwakilan kepala daerah, tapi dasar penetapannya yang membingungkan. Dari semua ini memperlihatkan satu hal, betapa mudah prosedur pelaksanaan konvensi ini jatuh pada subjektivitas-subjektivitas individu. Tanpa transparansi, konvensi ini hanya jadi ajang mainan Ketua Majelis Tinggi,” tutup Ray. (HST)

Berita Terkait

BAGIKAN