Politisi Kiri Swedia, Ann Margarethe Livh Ditembak di Somalia

Foto: facebook Vänsterns Internationella Forum

Mogadishu, Sayangi.com – Sejumlah pria bersenjata telah membunuh dua orang dan melukai politisi dari partai kiri Swedia, Ann-Margarethe Livh (64) setelah menembaki kendaraan yang ditumpangi mereka di ibukota Somalia, Mogadishu, kata para pejabat.

Ketiganya ditembak saat mereka kembali ke hotel tempat Livh menginap setelah dia memberi kuliah tentang demokrasi di universitas di kota itu, kata saksi.

Petugas polisi Kapten Ali Hussein mengatakan, Livh tengah dirawat di sebuah rumah sakit yang dijalankan oleh Uni Afrika (AU) di Mogadishu.

“Ann-Margarethe Livh, pimpinan Partai Kiri di Stockholm, mengalami luka tembak di Mogadishu hari ini,” kata juru bicara partainya, Aasa Mattsson, kepada kantor berita AFP. Kedua orang yang tewas diyakini sebagai penerjemah Somalia dan seorang polisi bertindak sebagai pengawal, laporan kantor berita Reuters.

“Orang-orang bersenjata, yang mengendarai mobil, menembaki mobil dengan wanita kulit putih di dalamnya. Mereka kemudian melarikan diri setelah penembakan itu terjadi,” seorang saksi, Shamso Ismail, kepada AFP.

Juru bicara kementerian luar negeri Swedia, Lena Tranberg mengatakan, pengaturan sedang dilakukan menerbangkan Livh ke negara tetangga Kenya untuk pengobatan lebih lanjut.

Madelen Cartagena Castillo, anggota keluarga Livh, mengatakan kepada televisi SVT Swedia bahwa meski Livh terluka namun dirinya masih mampu berbicara”, AFP melaporkan.

Motif serangan itu masih belum jelas. Somalia sedang berjuang melawan pemberontakan Islam yang dipimpin dan kejahatan tingkat tinggi.

Pekan lalu, relawan tenaga medis Medecins Sans Frontieres (MSF) mengatakan pihaknya menutup semua program di Somalia karena serangan yang ekstrim pada stafnya.

Somalia telah mengalami masa-masa tanpa kepemimpinan pemerintah pusat yang efektif sejak penggulingan penguasa lama, Siad Barre pada 1991.

18.000 tentara AU berada di Somalia mendukung pemerintah yang didukung PBB yang pertama dalam lebih dari dua dekade untuk diakui oleh AS dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Kelompok Islam militan al-Shabab tidak lagi memiliki basis di Mogadishu dan juga telah didorong keluar dari kota-kota lain, namun tetap mengendalikan kota-kota kecil dan sebagian besar wilayah pedesaan di Somalia tengah dan selatan serta terus melancarkan serangan bunuh diri sesekali.

Kelompok milisi berbasis klan, bajak laut dan geng-geng kriminal juga beroperasi di banyak bagian di Somalia. (FIT/BBC)