Harusnya Kita Punya UU Antipidato Penebar Benci

Foto: media-alliance.org

Jakarta, Sayangi.com – Pengamat terorisme dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara Mardigu Wowiek Prasantyo mengatakan, Pemerintah dan DPR harus segera membuat Undang-Undang Antihate Speech (pidato atau ceramah) yang menyebarkan kebencian, agar radikalisasi di Indonesia tidak terus berkembang.

Terus berkembangnya kelompok teroris di Indonesia, salah satunya karena selama ini tidak ada tindakan tegas terhadap mereka yang menyebarkan kebencian ketika berceramah atau berpidato. Mereka bebas menghina agama orang lain dan memprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan atas nama agama.

Mardigu juga prihatin, undang-undang seperti ini belum diterapkan di Indonesia, padahal 130 negara di dunia telah menerapkannya.

“Hate speech itu sekeras apapun agama atau radikal seseorang tidak bisa dijalankan. Dia juga tidak bisa menebar kebencian ‘kan, selesai masalahnya. Teroris selalu menimbulkan kebencian, jadi pada saat merekrut mereka akan bilang bangsa ini dipimpin oleh pemimpin yang thogut. Kebencian yang mereka kobarkan, bukan ideologi kebenaran Islamnya. Kena pasal itu mereka habis. Pidato yang menimbulkan kebencian bisa (membuat mereka) ditangkap,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai juga setuju bahwa orang yang menyebar kebencian harus ditindak. Menurutnya, selama paham radikal belum bisa diatasi, aksi teror akan terus ada.

Terkait deradikalisasi teroris yang telah ditahan, BNPT sedang membangun pusat deradikalisasi di Sentul, Jawa Barat, ujar Ansyaad. Rencananya, akan mulai beroperasi pada 2014. Ansyaad mengatakan, pembinaan terpusat seperti ini memang harus dilakukan karena selama ini proses deradikalisasi yang dilakukan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak berjalan baik.

“Di Lembaga Pemasyarakatan itu kan masih bisa berkembang radikalisasi karena LP kita kapasitasnya sangat terbatas. Kita lihat juga kapasitasnya berlebih sehingga sulit sekali mereka bisa mengatur kegiatan-kegiatan deradikalisasi itu,” pungkasnya. (MSR/ABC)