Tujuh Alasan Masyarakat Menyukai Jokowi

Foto : Sayangi.com/Emil

Joko Widodo unggul di survey tentang Calon Presiden yang dibuat oleh semua lembaga survey. Tentu ada alasan kuat mengapa elektabilitas Jokowi melejit dengan pesat. Berikut ini tujuh alasan mengapa masyarakat lebih menyukai Jokowi dibandingkan figur capres lainnya.

Pertama, ada pengalaman buruk masyarakat terhadap pemimpin yang dihasilkan oleh politik pencitraan. Masyarakat menilai sosok Jokowi tampil apa adanya, jauh dari kesan artifisial. Hal itu tampak jelas saat Jokowi terlihat lahap makan siang di Warung Tegal atau selalu menunjukkan wajah riang saat bertemu dengan rakyat kecil.

Kedua, kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang sederhana. Sosok Jokowi yang biasa mengenakan baju putih, celana hitam dan sepatu murahan tampak pas dengan kriteria itu. Terlebih selama menjabat Gubernur DKI Jakarta, mobil dinas yang lebih sering ia gunakan untuk beraktivitas hanya Kijang Inova. Merk yang relatif murah untuk pejabat setingkat Gubernur.

Ketiga, kerinduan masyarakat memilih pemimpin bersih dengan dengan rekam jejak yang jelas. Dalam hal ini, selama memimpin Kota Solo, Jokowi dinilai mampu mengubah, bukan saja wajah kota yang menjadi lebih ramah dan bersih, melainkan juga mentalitas birokrasi yang lebih melayani masyarakat. Kantor-kantor pelayanan umum seperti kelurahan dan kantor-kantor perijinan diubah seperti lobi kantor bank yang nyaman, lengkap dengan ruang ber-AC, bangku-bangku ruang tunggu dan sistem pengambilan nomer antrian.

Keempat, kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang tegas. Selama kurang dari satu tahun memimpin Jakarta, kendati dikritik belum mampu mengatasi macet dan banjir, namun ketegasannya dalam memutuskan pemberlakuan kartu Jakarta Sehat dan Jakarta Pintar, serta program relokasi warga miskin dari bantaran sungai, waduk, dan lainnya dinilai sudah on the track. Selama proses berjalan, pejabat birokrasi yang tidak satu visi dengan sendirinya tergeser. Jokowi juga bukan termasuk pejabat yang gampang ditekan oleh demo atau pernyataan politik yang menyerang kebijakannya.

Kelima, kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang transparan. Belum satu tahun memimpin Jakarta, Jokowi mengembangkan konsep transparansi anggaran, dengan mencetak APBD yang disebarluaskan ke masyarakat. Jabatan Camat dan Lurah pun dilelang secara transparan dengan melibatkan para pakar di berbagai bidang.

Keenam, kerinduan masyarakat terhadap pemimpin egaliter. Hal itu secara gamblang diperlihatkan Jokowi saat menonton berbagai konser yang dihadirinya. Tidak segan-segan Jokowi berada diantara penonton konser, misal saat konser Metallica, dia berada di kelas festival, berbaur dengan masyarakat. Sikap egaliter juga ditunjukkan Jokowi saat pulang ke Solo atau bepergian ke luar negeri dengan pesawat terbang kelas ekonomi.

Ketujuh, kemampuan Jokowi mengendalikan emosi. Dalam situasi apapun, dikritik dengan cara apapun, Jokowi tetap tampil dingin. Sikapnya yang andap asor (merendah) justru menjadi nilai lebih. Sebab dengan begitu dia mampu mengambil hati, bukan saja kawan seiring, bahkan lawan-lawan politiknya sekali pun. Dalam falsafah Jawa, sikap ini disebut menang tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan martabat musuh).

Tentu, bukan hanya tujuh faktor itu yang membuat Jokowi kini menjadi figur paling diperhitungkan untuk menjadi presiden Indonesia mendatang. Padahal dua tahun sebelumnya ia hanya menjabat Walikota Solo yang cuma berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa. Mungkin ini yang disebut banyak orang, Jokowi memimpin dengan hati (lead by heart).

Berita Terkait

BAGIKAN