Jumhur: Malaysia Harus Bebaskan Walfrida dari Hukuman Mati!

Jakarta, Sayangi.com – Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indoensia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat mengatakan, rencana hukuman mati yang menimpa Walfrida Soik di Malaysia, jangan hanya dilihat dari soal teknis hukum material saja. Menurutnya, hukuman mati itu harus ditarik lebih jauh karena TKW asal Nusa Tenggara Timur tersebut korban perdagangan manusia (human trafficking).

“Kasus hukuman mati bagi Walfrida Soik karena dituduh membunuh pemberi kerja (employer),” kata Jumhur melalui pesan singkatnya kepada Sayangi.com, Kamis (29/8/2013).

Menurut Jumhur, sudah jelas bahwa penempatan Penatalaksana Rumah Tangga (PLRT) yang dilakukan perseorangan tanpa melalui (Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang dikontrol pemerintah adalah bentuk perdagangan manusia. Namun sayangnya, Pemerintah Malaysia masih saja menerima dan memberi visa kerja kepada para korban perdagangan manusia tersebut. Bahkan jumlah pemberian visa ini diperkirakan bisa mencapai lebih dari 100 ribu orang.

“Ini artinya Pemerintah Malaysia bisa dikatakan turut serta dalam tindakan kriminal perdagangan manusia ini, karena itu bila Walfrida diancam hukuman mati oleh Mahkamah Tinggi Malaysia, sungguh merupakan tindakan yang tidak masuk akal, karena mengancam korban yang hidup dalam penderitaan dan tereksploitasi yang sangat mungkin sewaktu-waktu berbuat kalap,” ungkapnya kecewa.

Oleh karenanya, Jumhur meminta pemerintah negeri Jiran tersebut membebaskan Walfrida dari hukuman mati. Selain itu, lanjut Jumhur, pemerintah Malaysia juga harus menghentikan pengeluaran visa untuk jenis tersebut dan sekaligus meminta maaf kapada Rakyat Indonesia yang telah banyak menjadi korban dari perdagangan manusia ini.

“Kepada semua pihak yang terkait seperti LSM, serikat-serikat buruh, ormasi-ormas, dan khususnya Kementerian Luar Negeri dan KBRI agar terus berjuang memastikan dengan segala upaya untuk membebaskan Walfrida dari ancaman hukuman mati,” pintanya.

“Saat ini memang bangsa kita sedang dalam keadaan butuh pekerjaan, namun bukan berarti bangsa ini dengan mudah bisa dilecehkan. Ingat, kita merdeka bukan karena hadiah, tapi karena perjuangan yang patriotik.” (MI)