Hukuman Terhadap Penambang Ilegal Tidak Adil

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com –  Putusan 40 hari penjara terhadap seorang pengusaha keturunan Cina bernama Hasan Sudianto alias Bukong oleh Pengadilan Negeri Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung, mendapat reaksi keras dari Aktivis Gerakan Mahasiswa Mabel Peduli Hukum.

“Putusan itu tidak adil karena Bukong merupakan aktor penambang liar atau ilegal di penambangan timah. Tindakannya menyebabkan kehancuran alam di kota Babel” kata Rio, Koodintor Aksi,  dalam siaran pers yang diterima Sayangi.com. Kamis (29/8).

Menurut Rio  kasus eksploitasi alam itu bermula dari penambangan Timah Ilegal dan praktik perladangan berpindah dengan pembalakan liar hutan larang yang dilakukan oleh Bukong.

“Tapi dia mendapat keistimewaan baik dari Polda Bangka Belitung dan Pengadilan Tinggi Bangka Selatan. Ada indikasi suap Milayaran yang dilakukan oleh Bukong kepada dua Instansi tersebut, hal tersebut terlihat dari awal dijadikannya dia sebagai tersangka oleh polda yang hanya dijadikan tahanan rumah dan Pengadilan Tinggi pun demikian,” kata Rio.

Demi rasa keadilan, Rio memimta lembaga penegak hukum, semisal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengambil alih kasus yang menjerat Bukong tersebut. Begitu juga dengan Komisi Yudisial (KY).

“KY harus memeriksa hakim yang menjatuhkan vonis 40 hari penjara kepada Bukong. Pengadilan Tinggi Bangka Selatan untuk segera mengadili ulang kembali Bukong. Ini demi rasa keadilan Rakyat Bangka Selatan,” katanya.

Lebih lanjut, Rio mengutip data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Selatan. Dalam data itu, sebanyak 5.984 hektare hutan lindung dikategorikan sangat kritis dan 10.885 hektare sisanya kritis. Menurut Rio, kerusakan alam itu disebabkan karena adanya penambangan liar dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

“Hal tersebut terjadi akibat tidak tegasnya penegakan hukum bagi penambangan Ilegal, hukum nampak sekali tajam kebawah tapi tumpul keatas,” katanya. (VAL)