Krisis Rupiah, Presiden Malah ke Eropa Timur dan Asia Tengah

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono dan beberapa menteri, mulai Minggu (1/9) hingga Sabtu (7/9), akan melakukan kunjungan ke 3 (tiga) negara di kawasan Asia Tengah dan Eropa Timur, yaitu Kazakhstan, Polandia, dan Rusia. Di tengah kabar terus melemahnya rupiah pagi ini.

Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional (SKPHI) Teuku Faizasyah mengatakan, rangkaian perjalanan Kepala Negara ke luar negeri kali ini akan diawali dengan kunjungan ke Astana, Ibukota Kazakhstan.

“Kunjungan ini dilakukan untuk membalas kunjungan Presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev ke Indonesia pada bulan April 2012 lalu. Kunjungan Presiden RI terakhir ke Kazakhstan dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 6-8 April 1995,” kata Faizasyah dalam siaran persnya, Jumat (30/8) pagi.

Selain melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Nursultan Nazarbayev, menurut Faizasyah, dalam kunjungan ke Kazakhstan itu, Presiden juga dijadwalkan akan bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Serik Akhmetov dan pelaku bisnis utama Kazakhstan.

“Bidang-bidang kerjasama yang akan didorong utamanya di bidang kerjasama perdagangan dan investasi, serta kerjasama untuk ketahanan pangan dan energi,” ungkap Faizasyah.  

Ia menyebutkan, volume perdagangan kedua negara pada tahun 2012 sebesar 63,15 juta dolar AS, naik hampir dua kali lipat dari volume tahun 2011 sebesar 33,15 juta dolar AS. Sedangkan pada periode Januari-April 2013, volume perdagangan kedua negara sebesar 12,10 juta dolar AS.  Diharapkan nilai perdagangan ini masih dapat terus ditingkatkan di tahun-tahun yang akan datang sehingga dapat mencapai target raihan yang ditetapkan pada tahun 2017 yakni 100 juta dolar AS.

Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional itu, sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tengah dengan ketersediaan sumber daya minyak dan gas yang melimpah, Kazakhstan memiliki banyak potensi yang dapat dikerjasamakan dengan Indonesia.

“Kunjungan ini juga akan dimanfaatkan untuk mengundang para pelaku bisnis Kazakhstan untuk berinvestasi di Indonesia di bawah kerangka MP3EI,” tambah Faizasyah.

Polandia dan Rusia

Seusai kunjungan di Astana, Kazakhstan, Presiden RI beserta rombongan akan bertolak menuju Warsawa, Polandia, guna memenuhi undangan resmi Presiden Polandia.

Menurut Faizasyah, kunjungan ke Polandia ini merupakan  kunjungan ketiga yang dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia ke negara tersebut sejak dibukanya hubungan diplomatik pada tahun 1955. Kunjungan pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno tahun 1959 dan yang kedua dilakukan oleh Presiden Megawati pada tahun 2003.

Selama di Polandia, Presiden SBY dijadwalkan akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Polandia, Bronisław Komorowski. Selain itu, juga akan dilakukan pertemuan dengan PM Donald Tusk dan Ketua Senat Bogdan Borusewicz.

Teuku Faizasyah mengemukakan, bidang-bidang kerjasama yang akan didorong dalam pertemuan dengan Presiden Polandia, utamanya  di bidang perdagangan dan investasi, serta pertambangan, energi dan lingkungan hidup.

Dalam bidang ekonomi, menurut Faizasyah, volume perdagangan antara kedua negara terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Volume perdagangan bilateral RI-Polandia pada tahun 2012 mencapai 467,43 juta dollar AS. Total perdagangan bilateral untuk periode Januari-April 2013 sebesar 162.459 juta dollar AS atau naik 6,52% dibanding periode yang sama tahun 2012.

“Indonesia berharap dalam lima tahun ke depan akan dapat menjadi tiga besar mitra dagang utama Polandia dari kawasan ASEAN,” ujar Faizasyah.

Menurut Teuku Faizasyah, rangkaian perjalanan Kepala Negara ke luar negeri kali ini akan diakhiri dengan kunjungan kerja ke St.Petersburg, Rusia untuk menghadiri KTT G20. Ia menyebutkan, selama di Saint Petersburg, Presiden Yudhoyono akan mengikuti rangkaian kegiatan KTT dan pertemuan bilateral.

Faizasyah menjelaskan, KTT G20 akan membahas 4 (empat) cluster of issues, yakni: growth and financial stability; sustainable development for all; growth, jobs, investment; dan growth and trade. Bersama para Leaders lainnya, menurut Faizasyah. Presiden Yudhoyono juga akan menghadiri dialog informal G20 dengan Business 20 (B20) dan Labor 20 (L20). Topik yang akan dibahas dalam dialog tersebut adalah “promoting growth and job”.

“B20 merupakan jejaring informal kelompok-kelompok bisnis dari negara-negara anggota G20 dengan misi untuk memberi sumbangsih terhadap upaya mencapai pertumbuhan ekonomi dunia yang stabil, berkelanjutan dan berkeadilan,” kata Faizasyah.

Ditambahkan Faizasyah, B20 juga bertujuan untuk memperkuat upaya G20 dalam memajukan penciptaan lapangan kerja. Anggota aktif dari Indonesia di B20 adalah KADIN. Sementara itu, L20 merupakan jejaring dari wakil-wakil serikat pekerja dari negara-negara anggota G20. L20 merupakan “the voice of workers” dalam kerangka G20. Agenda L20 antara lain adalah jobs for more growth dan development through creation of jobs.

“Indonesia merupakan satu-satunya negara dari kawasan Asia Tenggara yang menjadi anggota G20. Sejak KTT pertama, Indonesia senantiasa memperjuangkan pembahasan agenda pembangunan yang menjadi isu sentral bagi banyak negara berkembang.Dalam agenda ini, Indonesia terus mengedepankan sustainable development dan financial inclusion. Indonesia tentunya akan tetap memperjuangkan agenda pembangunan ini dalam KTT ke-8 G-20,” pungkas Faizasyah. (RH/Setkab)