Mengeksplorasi Indahnya Gereja-Gereja Tua Melaka

Foto: Sayangi.com/Tri Harningsih

Melaka, Sayangi.com – Pertama kali saya menginjak Melaka, bus dari terminal Melaka Sentral membawa saya ke “Kota Tua”, saya terkesiap dengan pemandangan dikanan kiri saya semua adalah gedung-gedung yang nyaris tak ada warna lain selain merah, hanya dihiasi banner-banner ala Chinese dan bendera Malaysia. Rupanya ini yang disebut Red Square, salah satu main atraction bagi turis-turis yang datang.

Taman utama dengan menara jam dan tugu air mancur ala Belanda di Jalan Gereja itu penuh orang, dengan becak-becak berbunga yang mondar-mandir dan siap mengantarkan anda keliling Melaka. Ah, saya masih terpesona dengan bangunan-bangunan yang ada disekeliling taman itu. Sebuah salib mentereng tertancap diujung bangunan yang dikenal sebagai Christ Church Of Melaka, gereja ini mungkin menjadi gereja terlaris yang dikunjungi setiap harinya di Malaka.

Gereja peninggalan Belanda ini bak artis yang diantri-antri oleh banyak orang untuk berfoto dan dijadikan profile picture mereka di beberapa situs internet. Tak heran, gereja ini memang sangat bersejarah, bahkan dinobatkan menjadi gereja tertua di Malaysia.

Menurut sejarah, gereja itu didirikan guna memperingati satu abad kepemerintahan Belanda di Malaka, tepatnya pada tahun 1753. Gereja ini unik dengan properti yang dihasilkan dari kerajinan tangan, langit-langit dengan balok yang tidak bersendi, Alkitab dari material kuningan, abjad-abjad Armenia yang terlampir di beberapa nisan, hingga altar-altar perjamuan dengan keramik yang cantik.

Tidak kalah hebohnya, tepat disamping gereja mentereng merah itu, ada bangunan merah lainnya yang disebut Stadthuys. Di sepanjang teras bangunan tersebut, penjual-penjual souvenir berlomba-lomba menawarkan harga diskon untuk para turis. Stadthyus yang warna dindingnya diselaraskan merah bersama gereja di sampingnya itu dikenal sebagai salah satu landmark utama Melaka, sejak dibangun pada tahun 1650-an, gedung ini digunakan sebagai kantor Gubernur pemerintahan Belanda, dan diyakini sebagai gedung kantor tertua Belanda di areal Timur.

Sekarang ini, Stadthuys House dialihfungsikan sebagai museum sejarah dan etnography. Jika anda berkunjung dari pagi hari, sempatkan masuk kedalamnya, menelusuri sejarah hingga koleksi etnography, museum beroperasi dari jam 9 hingga 5 sore pada hari biasa, dan di penghujung minggu beroperasi hingga pukul 9 malam, dengan administrasi sebesar 5 Ringgit untuk dewasa, dan 3 ringgit untuk anak-anak.

Selesai dengan itu, anda bisa melipir ke St. Francis Xavier Church. Uniknya, bahasa yang mereka pakai dalam lantunan doa-doa mereka adalah bahasa China peranakan. Gereja bergaya Ghotic-Style tersebut adalah buah karya dan donasi dari seorang Pastur Katolik berkebangsaan Perancis, tepatnya pada tahun 1849. Dia khusus membangunnya sebagai dedikasi untuk St.Francis Xavier, seorang misionaris yang membawa ajaran Katolik di Asia Tenggara di abad ke-16.

Tak hanya gereja-gereja dan bangunan merah saja yang apik di Old Town Melaka, masih banyak spot-spot menarik yang wajib dikunjungi. Nantikan kisah kunjungan reporter Sayangi.com selanjutnya ketika di Melaka selama beberapa waktu lalu. (FIT)