Susaningtyas Berharap Inteljen Punya Informasi Akurat

Foto : Sayangi.com/Okie

Jakarta, Sayangi.com – Anggota Komisi I DPR RI Susaningtyas Nefo Kertopati berharap Intelijen pada masa mendatang dapat berkembang pesat, lebih komprehensif, dan memiliki tingkat akurasi infromasi yang lebih maksimal. Untuk itu, kata dia, diperlukan komunikasi baik formal maupun informal.

“Komunikasi formal dan informal dikonstruksi oleh Badan Itelkam Polri dalam proses pengambilan keputusan tentang keamanan yang mencakup beberapa hal, misalnya komunikasi formal dilakukan dengan cara Alur Dinamika Informasi atau model yang secara struktural menentukan efektifitas organisasi dan alur informasi yang dinamis,” kata dia pada acara lounching bukunya berjudul “Komunikasi Dalam Kinerja Intelkam Keamanan” di Jakarta, Jumat (29/8).

Menurut Nuning — panggilan akrab Susaningtyas Nefo Kertopati, model tersebut dapat digunakan untuk menganalisis struktur dan fungsi dukungan organisasi-organisasi intelijen dan aktivitas yang berhubungan dengan intelijen. Dalam proses ini alur tugas dan pelaporan adalah antar unit (pengambil keputusan, pengumpul dan pemproses data (analisis)n database, dan lain sebagainya), serta agen2 dalam satu organisasi intelijen.

Dalam proses ini pula, lanjut Nefo, alur ini dievaluasi dengan tiga pengukuran hasil yang berbeda, yaitu alur intelijen ke pengambil keputusan utama, sumber-sumber dengan beban yang berlebih, dan sumber-sumber dengan beban kurang.

“Alur intelejen ke pengambil keputusan utama dapat digambarkan sebagai persentasi dari informasi yang dikirimkan ke pengambil keputusan. Sedangkan komunikasi informal dilakukan melalui komunikasi klandestin,” katanya.

Klandestin sebagai kekhasan komunikasi informasi dari inteljen merupakan organisasi komunitas yang berkerja untuk mengumpulkan informasi. Dalam kerangka kebutuhan negara, opreasi klendestin merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk menyelesaikan setiap ancaman, yang dilakukan secara efektif, rahasia, dan langsung menuju sasarannya.

“Komunikasi kalndestin sebagai aktivitas menjembatani secara sesama Case Officer dengan kantor pusat, mulai dari metode langsung yang bersifat personal communication maupun metode perantara yang bersifat cut out/impersonal communication,” katanya.

Menurut Nuning, tentu saja, informasi yang dkumpulkan dinilai sulit didapatkan dan atau rahasia, karenanya dibutuhkan spionase sebagai sumber tertutup atau surat kabar sebagai sumber terbuka. Hasil pengumpulan intelijen sebagai produk komunikasi klandstin serta metode pengumpulannya, yaitu penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, sering kali dirahasiakan.

“Inilah seluruh pemahaman yang bermakna aktivitas “senyap” dari klandestin tersebut, adanya upaya agar kontak yang sedang terjadi tidak diketahui oleh pihak lain, baik komunikasi, identitas pelaku, maupun transaski isi dan bahan materi,” katanya.

Lebih lanjut, Nuning memaparkan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat efektifitas komunikasi intelijen yang meliputi beberapa faktor, diantara nilai informasi yang berkualitas sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, kredibilitas sumber bahan keterangan yang dapat diperoleh, serta manajemen komunikasi terbuka dan tertutup.

“Sedangkan hambatan yang mencakup hambatan nonteknis dalam komunikasi horizontal, disoroti informasi, serta hambatan masalah yang sangat kompleks baik mencakup Potensi Gangguan, ambang gangguan, gangguan nyata, dan juga faktor lemahnya rekrutmen sumber daya intelihen,” tambah dia,

Dikatakan Nuning, ranah intelejen sampai kapanpun memang akan menjadi ranah yang sarat dengan hal-hal yang berbau rahasia, tapi untuk proses regenerasi dalam dunia intelijen, kita harus memiliki pengetahuan luas. Terlebih sat ini tengah terjadi transformasi nilai-nilai kehidupan berbangsa yang menuju demokratisasi di segala aspek kehidupan. (MARD)