Pramono Anung : Tak Ada Dikotomi Islam dan Nasionalis

Foto : Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Ketua DPR-RI Pramono Anung Wibowo mengkritik adanya kesalah-kaprahan dalam mengartikan nasionalisme. Seolah partai-partai nasionalis lebih mengerti ke-Indonesiaan dibandingkan partai-partai Islam. Padahal pandangan itu bertolak belakang dengan realitas yang ada.

“Contohnya saja sahabat saya Lukman Hakim Syaefuddin, dia kader PPP, tapi dipuji almarhum Pak Taufiq Kiemas lebih nasionalis dari kader PDI Perjuangan,” ungkap Pramono Anung, dalam sebuah diskusi bertajuk “Jejak Nasionalisme, Demokrasi dan Masa Depan Keadilan” yang diselenggarakan Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK), di Sekretariat PGK Jl Tebet Timur Dalam Raya No 43, Jakarta, Sabtu (31/8).

Diskusi yang dihadiri puluhan aktivis gerakan itu dibuka Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi dan menghadirkan narasumber Wakil Ketua DPR-RI Pramono Anung Wibowo, Wakil Ketua MPR-RI Lukman Hakim Saefuddin dan Wakil Ketua PGK Ade Riza Hariyadi.

Lebih lanjut Pramono Anung menyebutkan, sebenarnya tidak ada diferensiasi (faktor pembeda) antara Parpol yang satu dan lainnya. “Semua parpol di Indonesia cenderung ke tengah. Ini bisa dilihat dengan banyaknya caleg-caleg non Muslim di PAN, bahkan di PKS pun ada caleg non-muslim. Di Papua, saya melihat ada PKS (Islam) dan PDS (Kristen) berkoalisi di Pilkada,” tandas Pramono.

Oleh karenanya, lanjut Pram, tidak ada relevensinya lagi mendikotomikan (mempertentangkan) antara Nasionalisme dan Islam. “Paling bedanya, kalau di Partai Islam itu pengurusnya lebih mahir bahasa Arab,” canda Pram disambut tawa audience.

“Hanya memang, perdebatan itu meruncing setiap menjelang Pemilu, karena masing-masing memiliki segmentasi sendiri,” imbuh Pram.

Orang-orang di partai agama, lanjut Pram, sesungguhnya perilakunya tidak jauh beda dengan orang-orang dari partai nasionalis.

“Tidak perlu saya sebut namanya dan apa partainya, saya pernah melihat seorang pimpinan partai Islam sedang pedicure di Salon, yang tentu tangannya dipegang-pegang wanita yang bukan muhrimnya. Pertunjukan di ruang publik ini kan tidak mencerminkan dia sebagai tokoh partai Islam?” beber Pram.

Namun Pram setuju dengan thema besar PGK yang mengusung isu keadilan. Artinya, sebagus apapun demokrasi dia hanya akan menjadi asesoris bila tidak membawa kesejahteraan yang adil bagi semua. (MARD)

[iframe width=”420″ height=”315″ src=”//www.youtube.com/embed/TeNg1V6uppc” frameborder=”0″ allowfullscreen ]