Di Negara Lain, Menteri Tak Hafal Lagu Kebangsaan Mundur

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Beberapa hari lalu, Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo ‘ketahuan’ tidak hafal lagu kebangsaan, “Indonesia Raya”. Spontan, peristiwa ini menjadi heboh dan menuai celaan, karena tidak selayaknya seorang menteri tidak hafal lagu kebangsaan negaranya. Namun, dari sekian banyak celaan itu, hampir tidak ada yang mendesak Roy untuk mundur dari kabinet.

Tidak adanya tekanan untuk mundur dari publik ini dinilai sebagai lemahnya nasionalisme masyarakat Indonesia. Padahal jika ada tekanan, Menpora tersebut akan berpikir untuk mundur. Hal ini dikemukakan Wakil Ketua DPR Pramono Anung menanggapi begitu rendahnya rasa Nasionalisme masyarakat Indonesia.

“Ketika menyangkut dengan Nasionalisme, masyarakat kita tidak ada greget, tidak ada getaran. Ketika ada seorang menteri tidak hafal Indonesia Raya, masyarakat kita tidak marah, sehingga menteri tersebut tidak terdesak untuk mundur,” kata Pramono Anung dalam diskusi “Jejak Nasionalisme, Demokrasi, dan Masa Depan Keadilan” yang digelar oleh DPP Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) di Jakarta, Sabtu (31/8/2013).

Politisi PDI Perjuangan ini sangat menyesal dengan peristiwa tersebut. Menurutnya, jika kejadian semacam ini terjadi di negara lain, maka sudah pasti akan muncul desakan dari masyarakatnya untuk mundur. Desakan ini muncul dengan sendirinya, karena adanya ‘Getaran Nasionalisme’.

“Kalau terjadi di negara-negara lain, tekanan publik akan begitu kuat, sehingga menteri yang bersangkutan mundur akibata tekanan itu. Jadi getaran Nasionalisme begitu ketatnya. Ini contoh Nasionalisme dalam potret yang sederhana,” jelasnya.

Ia juga menyayangkan karena kekuasaan pun tidak memberikan respon dalam menanggapi persoalan tersebut.

“Enggak ada respon yang keras dari kekuasaan terhadap hal itu (menteri tidak hafal lagu Indonesia Raya, red).”

Pernyataan Pramono ini menanggapi pertanyaan salah satu peserta diskusi, Akbar. Ia mengatakan bahwa Nasionalisme di negeri ini sangat lemah, karena negara juga tidak menghargai terhadap rakyatnya.

“Ya, Nasionalisme kita cetek. Bagaimana, saya menghargai negara, tapi negara tidak menghargai saya, saya (malah) lebih dihargai negara lain,” kata Akbar dalam pertanyaannya yang berkobar-kobar itu.

Kondisi demikian terjadi kata Akbar, karena negara tidak mampu memberikan keadialan terhadap rakyatnya. Bahkan selama 68 tahun merdeka, keadilan itu tidak pernah diwujudkan oleh negara.

“Ini buah keadilan yang enggak pernah ada. 68 tahun merdeka, kalau pohon, sudah besar sekali, tapi enggak pernah berbuah. Kalau lima tahun lagi bangsa ini tidak ada buahnya, lebih baik tebang saja (pohon itu, red).”

Selain dihadiri langsung Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi, diskusi ini juga dihadiri tiga pembicara, yakni Wakil Ketua DPR-RI Pramono Anung Wibowo, Wakil Ketua MPR-RI Lukman Hakim Saefuddin dan Wakil Ketua PGK Ade Riza Hariyadi.