Anggawira: Terobosan Mengatasi Krisis Kedelai

Photo: Pribadi

Krisis pangan akan selalu jadi ancaman bagi setiap Negara, apabila produksi pangan negara tersebut jauh di bawah kebutuhan nasionalnya. Kelangkaan kedelai yang kita alami saat ini  tentu tidak berarti telah terjadi krisis pangan, karena kedelai hanya salah satu dari sekian banyak komoditas pangan yang menjadi menu makanan kita sehari-hari. Tetapi, bagi keluarga yang mengandalkan tahu tempe sebagai sumber protein, sekarang harus repot mencari alternatif sumber protein yang lain. Ketergantungan terhadap pangan impor sering mengakibatkan kelangkaan dan kenaikan harga di pasar dalam negeri.

Hari-hari ini kita disadarkan kembali akan perlunya bangsa ini mempunyai sistem produksi pangan yang tangguh. Beberapa tahun yang lalu, ketika harga kedelai naik kita pernah menyadari perlunya kesungguhan untuk membangun kemampuan produksi kedelai. Lalu, kita  terlena dengan prioritas lain dan kejadian itu tidak mampu menghadirkan solusi mendasar atas persoalan ketergantungan kepada kedelai impor, sampai kejadian serupa kita alami kembali  saat ini.

Kebijakan Pemerintah menurunkan bea masuk impor dan mendorong koperasi atau kelompok pengrajin tahu tempe untuk dapat mengimpor langsung kedelai dengan harapan dapat memotong rantai tata niaga, memang sudah tepat dan harus diambil pada saat ini. Tetapi, berkurangnya pasokan kedelai impor karena turunnya produksi di Amerika Serikat sebagai dampak kekeringan tentu tidak serta merta dapat dipulihkan. Selain itu, belum kuatnya sistem produksi kedelai di dalam negeri turut andil terhadap kelangkaan kedelai. Untuk mengatasi kelangkaan kedelai kita tidak bisa hanya mengandalkan instrumen kebijakan perdagangan tetapi harus mencakup penguatan sistem produksi di dalam negeri, terutama untuk mencegah kejadian seperti ini terulang lagi pada masa yang akan datang.

Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia harus memiliki grand strategy dalam membangun sistem produksi pangan yang tangguh sehingga terbebas dari ketergantungan kepada pangan impor. Tanah air kita yang berada di daerah beriklim tropika memungkinkan pertanian sepanjang tahun. Kita dapat membangun sistem produksi pangan yang tangguh dengan mengerahkan seluruh sumberdaya dan kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan sendiri kebutuhan pangannya, baik dalam ragam maupun volume dan waktu ketersediaannya. Inilah sesungguhnya target swasembada pangan secara berkelanjutan yang mestinya terus menerus kita perjuangkan untuk dapat ditegakkan.

Kalau Indonesia bisa membangun sistem produksi pangan yang kuat maka kita juga akan dapat membantu negara-negara lain di dunia yang kesulitan memproduksi pangan. Dengan demikian, grand strategy kita dalam bidang produksi pangan tidak akan terjebak pada penanganan persoalan jangka pendek dan terbatas pada komoditas tertentu tetapi menjangkau rentang waktu yang lebih panjang dengan cakupan yang lebih luas sehingga lebih tangguh.

Untuk membangun sistem produksi pangan yang kuat kita perlu mengelola secara optimal sumberdaya yang kita miliki. Salah satu versi dari perhitungan areal tanam untuk swasembada kedelai menyatakan bahwa dibutuhkan tidak kurang dari 1,7 juta hektar lahan. Namun keinginan tersebut berbanding terbalik dengan fakta di lapangan, dimana  terjadi konversi lahan yang sangat cepat untuk permukiman, industri, jalan raya, dan sebagainya.

Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa setiap tahun terjadi konversi lahan pertanian ke penggunaan lain tidak kurang dari 110 ribu hektar. Termasuk dalam lingkaran persoalan ini adalah lahan tidur yang tidak ditanami karena sudah dibeli dari petani dan pembelinya berspekulasi untuk dapat menjualnya lagi dengan harga jauh lebih tinggi. Infrastruktur bendungan dan jaringan irigasi yang kita miliki tidak berfungsi maksimal karena daerah tangkapan air di hulu terdegradasi dan jaringan irigasi rusak.

Tantangan pengembangan kedelai di Indonesia sebagian telah coba dijawab oleh IPB, dalam berbagai penelitian yang dilakukan pada penambahan luas area tanam dan bibit unggul. Untuk mengkaji kemungkinan penambahan luas areal tanam kedelai, telah dilakukan penelitian untuk menjadikan lahan pasang surut sebagai tambahan areal untuk tanaman kedelai. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kemungkinan penurunan areal tanam jagung dan palawija lain karena perluasan areal tanam kedelai. Mengingat potensi lahan kering di tanah air yang masih belum dimanfaatkan secara optimal terutama tanah asam maka sebagai kelanjutan dari penelitian-penelitian sebelumnya, IPB juga telah mengembangkan formula inokulan bakteri bintil akar untuk peningkatan produksi kedelai pada lahan kering asam (pH 4,0).

Dengan memanfaatkan inokulan tersebut, lahan kering asam dapat ditanami kedelai dengan produktifitas yang tinggi dan penggunaan pupuk nitrogen dapat dikurangi 50% (Rachmania et al., 2011). Selain itu, telah dikembangkan juga galur varietas unggul kedelai yang mirip kedelai impor yang disukai perajin tempe. Pada saat ini telah ada lima galur kedelai yang produktivitasnya di atas varietas Anjasmoro yang digunakan sebagai pembanding karena produktivitasnya tinggi (2,59 ton/ha) dan berbiji besar. Dari lima galur kedelai tersebut dua galur kedelai tercatat mencapai produktivitas 2,94 ton/ha (Suharsono, 2012).

Berbagai hal tersebut sekiranya menunjukkan bahwa pengembangan komoditas kedelai di Indonesia masih sangat mungkin dilakukan. Perlu ada kerjasama dari berbagai pemangku kepentingan, baik petani, pemerintah dan industri, untuk dapat mewujudkan sistem produksi kedelai yang kuat. Perumusan upaya peningkatan sistem produksi dan perbaikan sistem tata niaga secara komprehensif menjadi kunci perwujudan hal tersebut.

Dr (cand) Anggawira, ST, MM,  saat ini menjabat Ketua BPP HIPMI