Aktivis 98: SBY Pintar Tarik Subsidi, Tempe Tak Terbeli

Foto : Sayangi.com/FHR

Jakarta, Sayangi.com – Lima belas tahun sudah reformasi bergulir. Rezim telah berganti rezim, namun belum juga mampu mengakomodir agenda reformasi total yang dituntut mahasiswa dan rakyat negeri ini. Rakyat masih menderita, buruh masih diperas upah murah, pelajar dan mahasiswa masih dijerat biaya pendidikan yang mahal.

Demikian dikemukakan Muhammad Sofyan yang akrab dipanggil Iyan, alumni IISIP dan mantan Ketua LMND dalam pembukaan Refleksi Perjalanan 15 Tahun Aktifis 98 an Deklarasi Jaringan Aktifis 98 (JARAK 98) di Galeri Cafe, Taman Ismail Marjuki, Jakarta Pusat (9/9/2013)). Hadir dalam acara tersebut, Alumni HMI Suparwan Parikesit, Politisi Partai Hanura Dr. Yuddy Chrisnandi dan aktifis dari lintas generasi.

“SBY tidak mampu mewujudkan cita-cita luhur para pendiri bangsa yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam budaya”, ungkap Marbun, aktifis 98, dalam pembacaan pernyataan sikap JARAK 98.

Marbun menambahkan, kedaulatan politik negeri ini tercabik-cabik. Maraknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang disiksa, dibunuh dan tak berdaya di negeri lain adalah bukti Indonesia tidak berdaulat secara politik.

Suparwan Parikesit yang diminta berbicara menjelaskan banyaknya persoalan di bangsa ini. “Tidak ada jalan lain, harus ada generasi baru yang bangkit dan melawan kondisi ini. Saya tidak percaya satupun calon presiden yang ada saat ini”, Ungkap Suparwan.

Dalam orasinya, Yuddy Chrisnandi menjelaskan pemerintah telah gagal dalam membangun kesejahteraan rakyat. “Di dua periode penghujung terakhir SBY, masih banyak pekerjaan rumah yang belum terjamah, bahkan masih jauh panggang dari api”, tuturnya.

Rakyat kecil masih menjerit, lanjutnya, tempe yang merupakan simbol dari rakyat Indonesia. Namun banyak para pengrajin tempe yang gulung tikar. Seolah mengingatkan lagu Galang Rambu Anarki karya Iwan Fals, Orang pintar tarik subsidi, tempe tak terbeli.

Dalam deklarasi ini, para aktifis memberikan hadiah tempe dan tahu kepada Presiden SBY yang berulang tahun hari ini, sebagai simbol runtuhnya kedaulatan pangan bangsa ini. JARAK 98 menuntut SBY bertanggungjawab atas carut marut yang terjadi di bangsa ini. Acara ditutup dengan pembacaan Sumpah Rakyat Indonesia yang dipimpin oleh Muhammad Sofyan (FHR)