Kak Seto: Kasus Dul Tanggung Jawab Ahmad Dhani

Foto: antara

Sayangi.com –  Kecelakaan maut yang melibatkan Abdul Qadir Jaelani, Dul (13 th) anak musisi Ahmad Dhani mengundang banyak perhatian masyarakat. Berbagai komentar dari berbagai sudut pandang pun bermunculan. Betapa tidak, peristiwa yang terjadi malam Minggu (8/9) pukul 01.45 WIB, di tol Jagorawi ini memang menghebohkan,selain menimpa seorang seleberiti, persitiwa ini  mengorbankan enam nyawa, dan sembilan lainnya luka parah. Dul sendiri menderita luka dalam dan patah kaki bagian kanan.

Berikut wawancara Dr. Seto Mulyadi  atau lebih akrab dipanggil Kak Seto (62 th) pemerhati anak dan ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA),  dengan Sayangi.com, Senin (9/9) malam.

Dari sisi psikologis, bagaimana Anda  melihat kasus kecelakaan Abdul Qadir Jaelani (Dul)?

Anak usia 13 tahun seperti Dul anak Ahmad Dhani sedang masa transisi. Kondisi psikisnya masih labil, emosional, impulsif, dan keingintahuan yang besar. Seharusnya anak seusia Dul tidak boleh dibiarkan mengemudi di jalan raya. Orang tua harus aktif mengawasi dan bertanggungjawab dengan peristiwa seperti ini. Kondisi psikis seperti inilah yang mungkin memicu kecelakaan yang dialami Dul. Pada kondisi malam dan jalan lengang bisa saja dia terpancing untuk menambah kecepatan sehingga tak terkendali.

Apakah  konflik orang tua juga dapat menyebabkan kondisi psikis  Dul menjadi lebih tidak stabil?
 
Ya, bisa. Kondisi  broken home, dan konflik keluarga membuat anak menjadi lebih labil. Tidak ditambah konflik saja, seharusnya anak seusia itu labil.   

Dalam kasus Dul ini, apakah Ahmad Dhani harus bertanggungjawab penuh?

Ya, Dhani harus bertanggung jawab. Ahmad Dhani sudah mengatakan itu kepada saya, jangan semua kejadian ini dibebankan kepada Dul, dialah (Ahmad Dhani)  yang bertanggung jawab. Tetapi tidak hanya orang tua saja yang bertanggung jawab, Polisi juga harus lebih tegas agar tidak membiarkan anak menggunakan mobil atau motor di jalan raya.

Apakah Ahmad Dhani dapat dikenai pidana terkait dengan kasus ini?

Saya belum menemukan pasalnya dalam undang-undang yang ada di negara kita ini, jika perbuatan anak seperti ini dapat berimbas kepada orang tua secara pidana. Walau pun tetap dapat dikatakan, kasus ini karena kalalaian orang tua dan menyebabkan kematian dan korban luka. Kecuali jika Ahmad Dhani melakukan eksploitasi terhadap anak, misalnya Dul disuruh mengemudi mencari uang untuk kebutuhan keluarga, itu baru dapat dikenakan pidana.

Kalau pencabutan kuasa asuh gimana?

Nah, kalau tindakan perdata bisa saja dilakukan. Ketika perceraian mereka, Mahkamah Agung memutuskan hak asuh ketiga anak Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Al Ahmad Abdul Qodir Jaelani jatuh pada Maia. Tetapi sejak berpisah, anak-anak itu tinggal bersama Dhani. Tetapi kalau ada masalah begini, harus ditegaskan lagi, siapa yang berwenang mendapatkan (hak asuh anak). Dalam undang-undang, kalau saja tidak mampu, kuasa asuh bisa dicabut.

Dalam persefektif hukum, Dul yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka harus menjalani proses hukum yang berlaku. Bagaimana menurut Anda?

Ya, setiap orang memang harus bertangungjawab atas perbuatannya, termasuk Dul. Tetapi hukum kita juga mengatur bagaimana seharusnya anak seusia Dul diperlakukan. Saya pikir, berdasarkan Undang-Undang No.3/97 tentang Pengadilan Anak dan sekarang diganti dengan undang-undang No 11 tahun 2012, meskipun masih ditunda   pemberlakukannya, mestinya ditempuh secara kekeluargaan (restoratif justice). Ini proses hukum juga tapi dengan cara perdamaian dan pihak korban juga setuju. Artinya, pertanggungjawaban kerugian dan pengobatan harus diselesaikan oleh pihak Ahmad Dhani.

Kecelakaan seorang anak di bawah umur bukan hanya sekali ini. Di jalan raya kita juga sering menyaksikan aksi  anak  remaja yang seenaknya dan sangat mencemaskan kita semua. Bagaimana pendapat Anda?

Saya mengusulkan adanya gerakan nasional secara masif, bukan saja orang tua, tetapi masyarakat dan pihak aparat kepolisian mengawasi anak-anak agar jangan mengemudikan mobil atau motor di jalan raya. Kepada orang tua, saya juga berpesan, harus ada waktu untuk anak. (VAL)