Ahok: Kedelai Langka, Padahal Saya Suka Tempe

Foto: Jakarta.go.id

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mengaku pihaknya belum bisa berbuat banyak terkait melonjaknya harga kedelai yang mengakibatkan sejumlah perajin tahu dan tempe di kawasan Primer Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Semanan dan Cengkareng, menggelar aksi mogok produksi sejak sepekan silam.

“Saya sampai saat ini belum mendapat instruksi dari pak Gubernur untuk mencari solusi atas permasalah ini. Saya juga belum ada koordinasi. Persoalan ini menyangkut kebijakan pusat. Saya memang sudah mendengar langka di pasar, padahal saya suka tempe,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, saat dijumpai wartawan di Balaikota, Selasa (10/9).

Diketahui bahwa sampai kini Pemprov DKI belum dapat mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan kedelai tersebut. Pasalnya, Pemprov DKI harus menunggu kebijakan dari pemerintah pusat mengenai kenaikan harga tahu dan tempe.

“Kita belum siap. Masalah impor, saya belum tahu, ini kebijakan pusat. Pemprov DKI belum bergerak. Saya masih tunggu perintah gubernur,” ujar Ahok.

Diketahui bahwa aksi unjuk rasa dan mogok produksi seluruh perajin tempe dan tahu tersebut terhitung sejak tanggal 9 hingga 11 September 2013 besok, membuat pedagang tahu dan tempe di pasar Utan Panjang libur berjualan tahu dan tempe. Tidak hanya itu, hampir semua pasar di Ibukota Jakarta pedagang tidak lagi menjual tahu dan tempe, di antaranya Pasar Tebet, Pasar Minggu, Pasar Muara Baru (pasar baru dan lama), Pasar Senen, dan lainnya.

Kebanyakan dari beberapa pedagang tahu dan tempe terpaksa berjualan ayam, daging, ada yang juga berjualan sayuran, dan ada pula yang berhenti berjualan. Selain untuk mengisi waktu senggang akibat tidak adanya pasokan, upaya ini juga dilakukan untuk berjaga-jaga apabila para perajin tahu dan tempe memperpanjang waktu unjuk rasa dan mogok produksinya.

Sementara untuk harga kedelai saat ini mengalami kenaikan mencapai Rp 8.900 sampai Rp 10.000 yang dulunya hanya seharga Rp 7.000 sampai Rp 7.500. (RH)