Kamboja Terancam Perang Saudara

Foto: AFP

Phnom Penh, Sayangi.com – Para pemimpin Kamboja menggelar pertemuan membahas krisis politik di negeri itu, menyusul jatuhnya korban tewas dalam demonstrasi di ibukota negara itu.

Perdana Menteri Hun Sen dan Pemimpin Oposisi Sam Rainsy bertemu di Majelis Nasional hari Senin (16/9) di Phnom Penh, setelah aksi protes besar-besaran yang dipicu dugaan kecurangan Pemilu yang diselenggarakan Juli lalu.

Mereka saling berjabat tangan dan bertemu di sebuah ruang terpisah dengan gedung Parlemen. Keduanya merupakan pemimpin partai besar, Hun Sen pemimpin Partai Rakyat Kamboja dan Rainsy dari Partai Penyelamat Nasional (CNRP) yang mengklaim memenangi pemungutan suara dan menuding rivalnya melakukan kecurangan Pemilu.

Sekitar 20 ribu orang dari kelompok oposisi menggelar demonstrasi menuntut penyelidikan independen atas hasil pemungutan suara pemilu. Pasukan keamanan menghalau para demonstran dengan menembakan granat asap, gas air mata dan meriam air.

Menurut sejumlah saksi mata termasuk dari sejumlah aktivis HAM negeri itu, seorang demonstran tewas. “Saya melihat dengan mata saya sendiri dia tewas. Dia ditembak di kepala,” ungkap Virak, seorang aktivis HAM. Setidaknya masih ada sepuluh korban luka lainnya. “Saya mendesak pihak otoritas memastikan bahwa tragedi ini adalah insiden yang terisolir,” katanya, memaksa kedua pemimpin baik oposisi CNRP dan Pemerintah untuk menenangkan situasi .

Juru bicara polisi militer, Kheng Tito membantah pasukan keamanan menembakkan peluru tajam. “Polisi militer hanya menggunakan tongkat dan perisai, sementara polisi menggunakan gas air mata. Kami tidak menggunakan peluru,” ujar Tito.

Sementara itu, pejabat CNRP, Kuy Bunroeun, salah seorang penggerak demonstrasi menyalahkan pemerintah atas kekerasan yang terjadi. “Itu adalah kesalahan pemerintah,” tudingnya. Menurutnya, pihak oposisi tetap menginginkan adanya penyelidikan independen atas dugaan kecurangan pemilu dalan pertemuan dengan Perdana Menteri Hun Sen. “Sikap kami sama dengan rakyat. Kami perlu menyelidiki untuk menemukan kebenaran agar masyarakat mendapat keadilan,” tambah Bunroeun.

Sementara anggota partai senior yang berkuasa, Cheam Yeap, menyampaikan pertemuan itu hanya membahas pembagian kepemimpinan di Parlemen. “Terlambat untuk membentuk komite independen (untuk penyelidikan hasil pemilu,” tegas Yeap.

Hari ini rencananya ada aksi protes yang kedua dari tiga hari yang direncanakan oleh pihak oposisi di ibukota untuk menekan Perdana Menteri Hun Sen. (MSR/ABC)

Berita Terkait

BAGIKAN