Janda-Janda Korban Belanda, Melaporlah ke KUKB

Foto: AFP

Amsterdam, Sayangi.com – Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) yang memfasilitasi gugatan para ahli waris korban kejahatan perang Belanda di Indonesia berharap agar janda-janda korban Belanda yang tersebar di semua tempat mau mengajukan kompensasi.

Ketua KUKB di Amsterdam, Belanda, Jeffry Pondaag kepada Radio Australia menyampaikan, pengajuan kompensasi itu dimungkinkan menyusul permintaan maaf kepada semua korban kejahatan perang yang disampaikan secara resmi beberapa waktu lalu di Jakarta.

Permintaan maaf itu disampaikan oleh Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan, sekaligus mengatakan akan memberikan kompensasi kepada janda para korban pembantaian di desa-desa Sulawesi Selatan oleh pasukan Kerajaan Belanda, Raymond Westerling, biasa dijuluki “Si Turki”.

“Saya ingin menyatakan permintaan maaf atas kejadian kejadian ini. Saya juga minta maaf kepada para janda dari Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar, dan Pare Pare,” sesalnya. Khusus di Sulawesi Selatan, korban kejahatan perang akibat aksi pembantaian disana oleh Pemerintah Indonesia bisa mencapai sekitar 40 ribu orang.

Ini adalah untuk kedua kalinya Belanda menyampaikan permintaan maaf dan akan memberikan kompensasi. Sebelumnya de Zwaan juga melakukan hal serupa kepada sembilan janda korban kejahatan perang di Rawagede, Bekasi, Jawa Barat. Permintaan maaf itu bukan hanya ditujukan buat kedua peristiwa pembantaian tapi seluruh peristiwa kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Kerajaan Belanda di Indonesia.

Atas alasan itulah Jeffry Pondaag berharap agar semua janda korban yang masih hidup mau mengajukan kompensasi kepada Pemerintah Belanda melalui kedutaan. Dia juga berujar kalau KUKB bersedia menjadi fasilitator untuk menyampaikan maksud para janda yang masih hidup.

“Apabila ada janda yang tinggal di Jawa Timur, suaminya dieksekusi pada tahun 49, 48 atau 47, harus datang ke Kedutaan Belanda dengan dokumen yang ada dan bisa membuktikan mereka dieksekusi tanpa hukum, bisa mengajukan permintaan kompensasi,” ujar Pondaag. “Kalau di Indonesia itu kan banyak tempatnya. Tapi persoalannya janda-jandanya masih ada atau tidak?” tanya dia.

Jeffry Pondaag menekankan permintaan maaf terhadap seluruh peristiwa kejahatan perang sudah bisa diartikan bahwa semua ahli waris di daerah manapun selain di Bekasi dan Sulawesi bisa segera menyampaikan kompensasi. “Yang kasusnya seperti Rawagede dan Sulawesi Selatan, jika ada seorang janda di Jawa yang dieksekusi berhak untuk permintaan maaf dan kompensasi,” klaim Pondaag.

“Tidak perlu ada gugatan, tapi hanya perlu melapor dan memberi bukti, pengadilan sudah tidak pengaruh lagi, karena kemarin sudah terbuka meminta maaf kepada semua korban,” tambahnya lagi. Permintaan maaf dan pemberian kompensasi ini bermula dari kemenangan gugatan belasan janda korban kejahatan perang di Rawagede pada pengadilan Belanda pada 14 September 2012. (MSR)

Berita Terkait

BAGIKAN