INDEF Berharap RAPBN Berikan Stimulus Sektor Riil

Foto: sayangi.com/dok.

Jakarta, Sayangi.com – Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati berhadap penetapan asumsi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014 dapat memberikan strimulus fiskal pada sektor riil.

“Pembahasan yang paling krusial sebetulnya dalam RAPBN 2014 adalah bagaimana angka-angka dalam asumsi tersebut bisa memberikan stimulus fiskal kepada sektor riil untuk memperbaiki kualitas domestik,” kataya saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Enny mengatakan perbaikan kualitas domestik akan bedampak pada kurangnya importasi yang akan mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan yang berkaitan juga dengan inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dia juga mengimbau program pemerintah untuk mencipakan keuangan yang inklusif (financial inclusion) harus lebih memperhatikan sektor “tradable” daripada sektor “nontradable” Sektor “tradable” merujuk pada sektor yang dapat menghasilkan devisa, seperti industri manufaktur, sementara sektor “non-tradable” merujuk pada sektor yang tidak dapat menghasilkan devisa, seperti properti.

Dia menilai bila sektor “tradable” dikembangkan maka akan menyerap tenaga kerja dan mungurangi angka kemiskinan.

“Sekarang ini, sektor “tradable” tidak ‘diprimadonakan’, alokasi anggaran kita justru lebih difokuskan untuk sektor “non-tradable”,” katanya.

Enny juga mengingatkan pemerintah dan DPR tidak hanya menetapkan angka-angka dalam asumsi RAPBN 2014, tetapi juga menyiapkan langkah-langkah apa yang akan dilakukan agar target, seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar dan inflasi dapat tercapai.

“Jangan hanya “matok”, tetapi juga harus diperhatikan sektor mana yang harus diberi stimulus untuk mendukung pencapaian target tersebut,” katanya.

Dia juga mengimbau kepada pemerintah dalam penetapan asumsi RAPBN 2014 tersebut harus sesuai dengan rencana kerja tahunan (RKT) tidak semata-mata kesepakan dengan DPR.

“Saya rasa pemerintah harus lebih berani secara profesional dan objektif dan diharapkan keputusan-keputusan itu tidak dicampuri urusan politis,” katanya.

Dalam Rapat Badan Anggaran di DPR pada Senin (16/9), pemerintah dan komisi XI menyepakati asumsi dasar makro ekonomi 2014, yakni pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 6 persen, tingkat inflasi 5,5 persen, nilai tukar rupiah Rp10.500 per dolar AS dan suku bunga SPN 3 bulan sebesar 5,5 persen. (ANT)