Prof. Siti Zuhro: Indonesia Masih Mencari Bentuk

Foto: Sayangi.com/Chapunk

Jakarta, Sayangi.com – Prof. Dr. R Siti Zuhro MA, Peneliti Senior LIPI, mengatakan Indonesia masih mencari bentuknya sendiri, dan belum menemukan sosok yang sebenarnya.  Reformasi yang berlangsung sejak tahun 1998 diakui telah banyak membawa perubahan dan kemajuan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun kehidupan berdemokrasi. Namun disisi lain, reformasi juga berdampak pada terjadinya erosi dan krisis akan jati diri sebagai bangsa.

“Jati diri bangsa Indonesia dapat kita lihat dari ideologi ataupun pandangan hidupnya, yakni Pancasila. Akibat perkembangan era global dan kemajuan jaman dewasa ini, Pancasila sebagai ideologi bangsa, nampaknya mulai luntur dan ditinggalkan,” kata Zuhro pada Serial Diskusi Politik PB HMI dengan tema “Penguatan Sistem Demokrasi Indonesia Antara Problematika dan Harapan” di gedung PB HMI Jl. Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/9).

Acara diskusi tersebut dihadiri narasumber: Prof. Dr. R Siti Zuhro MA (Peneliti Senior LIPI), Indra J Piliang (Politisi Golkar), Bursah Zarnubi (Ketua Umum PGK), dan Muh. Arief Rosyid Hasan (Ketua Umum PB HMI).

Sejumlah kalangan, kata Zuhro, mulai mengkhawatirkan dan prihatin terhadap kecenderungan nilai-nilai pancasila yang tidak lagi menjadi way of life dan ruh dalam berbagai kebijakan publik untuk meraih cita-cita bangsa.

“Ada kecenderungan untuk tidak menganggap Pancasila sebagai hal yang penting untuk dipahami dan diamalkan,” papar Zuhro.

Pancasila, lanjut Zuhro, dianggap sudah tidak ampuh lagi sebagai perekat bangsa, karena di sana-sini timbul berbagai konflik, benturan dan disharmoni sosial. Hal ini juga diperparah dengan minimnya sosok teladan yang baik, dan sebaliknya makin banyak sosok teladan yang buruk.

“Hal itu perlu ditanamkan kembali pemahaman nilai-nilai Pancasila kepada generasi penerus bangsa. Setiap warga Negara, penyelenggara Negara dan lembaga kenegaraan serta lembaga kemasyarakatan lainnya perlu mengamalkan kembali nilai-nilai Pancasila. Karena tanpa memiliki pandangan hidup, maka suatu bangsa akan mudah terombang-ambing dalam menghadapi persoalan yang timbul,” jelas Zuhro.

Di hadapan peserta yang mayoritas aktifis dan juga mahasiswa, lebih jauh Zahro mengatakan,  bagaimana mahasiswa (dalam kontek aktifis) untuk sementara tidaklah usah ikut campur dalam percaturan politik praktis, karena mahasiswa masih memiliki tujuan tersendiri, yaitu idealisme dan cita-cita.

Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui terlebih dulu oleh mahasiswa. Semisal setelah proses dan mapan jadi aktifis, bisa pindah dulu ke organisasi atau beraktifitas di sosial keagamaan.

“Baru setelah itu masuk ke politik. Di politik ini, idealisme itu diarahkan untuk meneguhkan kembali komitmen, tekad dan semangat untuk berbuat sehingga terakumulasi dalam semangat kebangsaan dan semangat nasionalisme yang tinggi,” jelas Zuhro. (Yan Zavin).