Humanika : Arungi Tantangan Yang Lebih Kompleks

Foto : Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Dari Jalan Poncol No 17, Kapten Tendean, Jakarta Selatan, kini di usianya ke-23 tahun, Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) telah mengembang ke sejumlah Kota, Jawa dan Luar Jawa.

“Di era 1990-an siapa sih yang tidak mengenal Humanika?” ungkap Muchlis Ali, seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sering main ke Poncol, mengikuti acara-acara diskusi kritis yang sulit didapat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lain selain di Humanika.

“Dulu, seminggu sekali setiap habis shalat maghrib, kita bikin diskusi. Hampir semua tokoh oposisi, seperti Bang Hariman, Bang Adnan Buyung Nasution, Bang Rizal Ramli, dan tokoh-tokoh lainnya seperti Bang Akbar Tanjung, Bang Yusril Ihza Mahendra, mas Tjahjo Kumolo dan masih banyak lagi pernah kita undang diskusi,” kenang pendiri Humanika Bursah Zarnubi, sesaat menjelang acara pemotongan tumpeng, di Sekretariat Humanika Jakarta, di Bidara Cina, Kampung Melayu, Jakarta Selatan, Selasa (17/9).

Humanika, ucap Bursah, memang didirikan oleh sejumlah tokoh Organisasi Kemahasiswaan dari Kelompok Cipayung, antara lain Riad Osca Khalik (GMNI) dan Effendy Choiri (PMII).

Kala itu, imbuh Bursah, di Jakarta hanya ada dua kelompok kritis yang terang-terangan menentang kebijakan Presiden Soeharto. Selain Humanika, lebih dulu ada Pijar. “Karena kritis itu, sejumlah pendiri Humanika nggak berani lagi datang ke Poncol,” ucap Bursah disambut aplus peserta yang hadir.

Diantara yang hadir dalam acara tumpengan itu, antara lain Caleg DPRD DKI Tom Pasaribu, Rico Sinaga dari LSM Amarta, Sekretaris KNPI DKI Jakarta Umar, Ketua Humanika Lampung Basuki, Pimpinan Humanika Jakarta Sugeng Riyadi dan ratusan kader Humanika.

Namun Humanika, lanjut Bursah, tetap konsisten menjadi LSM Independen yang memperjuangkan Demokrasi, Kemanusiaan dan Keadilan. “Maka begitu saya menjadi Caleg DPR, saya konsisten menyerahkan organisasi ke saudara Andri. Sebab saya sudah berpartai dan tidak mau mencampuri lagi urusan Humanika,” tandas Bursah.

Hanya saja Bursah Zarnubi tidak menampik anggapan, tantangan sekarang ini lebih kompleks ketimbang era 1990-an. “Dulu musuhnya jelas, kebijakan yang tidak demokratis. Tapi sekarang ada demokrasi, tapi tidak ada kesejahteraan sebab demokrasinya sudah dibajak pemilik modal,” ungkap Bursah.

Oleh karenanya, sambung Bursah, sekarang ini muncul tokoh-tokoh politik yang tidak jelas asal-usulnya. “Tidak ada rekam jejaknya yang jelas di dunia pergerakan,” tuding Bursah.

Kenyataan itu dianggap Bursah sebagai tantangan yang mesti dihadapi oleh LSM dan Ormas sekarang ini. “Tidak bisa semua diserahkan ke partai politik, karena partai politik yang ada sekarang ini tidak menjalankan fungsi pendidikan politik dan kaderisasi. Peran itu yang mesti diambil Humanika ke depan,” ujar Bursah.

Selaku pendiri Humanika, Bursah pun berpesan agar kader dan pengurus Humanika terus meningkatkan kapasitas dirinya agar menjadi pemimpin-pemimpin yang andal di masa depan. “Sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, kalian lah yang mestinya menjadi pemimpin,” ucap Bursah memberi motivasi kepada kader-kader muda Humanika.

Sebelum ditutup acara doa oleh Ketua HMI Cabang Jakarta Raya, Bursah Zarnubi selaku pendiri Humanika diberi kehormatan meniup lilin dan memotong tumpeng. (MARD)