Polemik Seputar Pembuatan Film Soekarno

Foto : Sayangi.com/Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Merasa film “Soekarno : Indonesia Merdeka” garapan Hanung Bramantyo tidak sesuai dengan keinginannya selaku penggagas, Rachmawati Soekarnoputri melayangkan protes ke produser agar tidak menayangkan film itu di bioskop-bioskop.

Dalam protesnya, Rachma mengungkap film yang dibintangi aktor Ario Bayu itu merupakan buah dari idenya. Ide itu kemudian disambut Hanung. Bahkan Hanung, ungkap Rachmawati dalam jumpa pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (13/9) mengenalkan Rachma dengan Raam, seorang produser film.

Dalam pertemuan dengan Raam muncul kesepakatan, Rachmawati setuju Soekarno difilmkan dengan syarat, Rachma ikut menentukan casting untuk tokoh Soekarno. Karena yang dipilih Hanung adalah Ario Bayu, Rachma merasa kurang sregh, dengan alasan gesturnya sangat tidak mirip dengan sosok Soekarno yang diketahuinya.

Karena tidak cocok itu, Rachmawati memutuskan mundur. “Dengan dilayangkannya jawaban surat saya, MVP setuju batalkan kontrak. Nah, ini kan subyek di sebuah perjanjian kerja sama. Obyeknya, film itu. Produksinya aja sudah enggak cocok, harusnya break. Filmnya selesai, distop,” tegas Rachmawati.

Ternyata pembuatan film terus berlanjut tanpa keterlibatannya selaku penggagas. Itulah yang membuat Rachmawati keberatan dan mendesak produser agar tidak menyebar-luaskan ke masyarakat.

Lewat akun twitter @film_soekarno, Hanung Bramantyo menjelaskan secara rinci hingga 45 tweet tentang isi perjanjiannya bersama Rachmawati dan Yayasan Soekarno Putra(YSP) dan MV Pictures selaku produser.

Sejak awal, ungkap Hanung, peran Rachma dalam film itu hanya memberikan masukan dan referensi saja. Hanung juga menegaskan, dalam pembuatan film biografi sebenarnya tak ada peraturan yang menyebutkan harus meminta izin pada tokoh yang bersangkutan.

“Sedangkan YPS & Ibu Rahmawati memberikan masukan dan referensi untuk film ini. Yang berarti hanya masukan bukan keputusan. Ibu Rahmawati mengikuti proses revisi sampai revisi yang ke-13 dimana plot cerita sudah benar-benar jelas,” jelasnya.

Tak hanya itu, Hanung juga mengungkapkan, pihak YPS sebenarnya juga menerima keuntungan dari film ini. Berdasarkan perjanjian mereka, Hanung mengatakan hak cipta untuk film ini jatuh pada MVP Pictures.

“Melanjutkan poin selanjutnya, bahwa YPS berhak mendapatkan profit sharing sebesar 10 persen dari keuntungan bersih film ini. Perjanjian mengenai profit sharing ini hanya berlaku 5 tahun terhitung setelah film Soekarno rilis di bioskop Indonesia,” tambahnya.

“Mengenai kepemilikan hak cipta, telah disepakati juga, yang memegang hak cipta film ini adalah pihak MVP Pictures, bukan pihak YPS.”

Tentang dipilihnya Ario Bayu sebagai pemeran Soekarno, Hanung mengakui Racmawati sempat mengungkapkan keberatannya. Namun Hanung berdalih Ario dirasa pantas memerankan Soekarno meskipun tidak dibesarkan di Indonesia.

Bahkan Hanung mengungkapkan, pihaknya telah mengcasting nama-nama yang diajukan oleh Rachmawati, tapi tidak satu pun yang dinilainya cocok.

“Ario Bayu dirasa memenuhi kriteria sosok yang dicari, sosok yang bisa merepresentasikan Soekarno dengan baik. Ario yang dinilai tidak nasionalis, hanya karena tidak mengenal dengan baik siapa itu Bung Karno dianggap suatu kewajaran karena Ario tidak dibesarkan di Indonesia. Namun kembali lagi, pemilihan peran tidak didasarkan pada personality artis tersebut.” pungkas Anung Bramantyo dalam tweetnya. (MARD)