Pasek Heran Atas Sikap Pengurus Demokrat Soal PPI

Foto: Antara

Denpasar, Sayangi.com – Gede Pasek Suardika menyatakan, sikap orang-orang tertentu di Demokrat itu tidak perlu ditanggapi dengan ‘kontroversi hati’ nanti malah mengakibatkan ‘labil ekonomi’.

Pernyataan yang mengutip beberapa istilah kontroversial yang diungkapkan tunangan salah satu pesohor itu merupakan tanggapan Pasek rencana Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Nurhayati Assegaf yang akan memanggilnya karena hadir pada acara deklarasi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) di rumah mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (15/9).

“Kami di Demokrat justru didorong untuk aktif di berbagai ormas. Makanya, pernyataan orang-orang tertentu di Demokrat itu tidak perlu ditanggapi dengan ‘kontroversi hati’ nanti malah mengakibatkan ‘labil ekonomi’,” kata Pasek mengutip beberapa istilah kontroversial yang diungkapkan tunangan salah satu pesohor, seusai menjadi pembicara dalam seminar tentang reformasi birokrasi di Denpasar, Senin (16/9).

Menurut Pasek, PPI itu ormas, bukan parpol. Ibarat radio, kalau Demokrat itu FM, maka PPI itu AM.

“Tidak ada konstitusi dan aturan partai yang saya langgar,” katan Pasek.

Apalagi menurut Ketua Komisi III DPR itu, nama PPI sama sekali tidak mirip dengan Partai Demokrat. Demikian pula dengan logonya dan aktivitasnya. PPI sebagaimana diungkapkan Pasek adalah ormas yang membidangi masalah sosial dan budaya.

“Saya juga aktif di HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) milik Pak Prabowo, tapi soal partai saya ikut Pak SBY. Apa salahnya kalau saya ikut ormas-nya Pak Anas?” kata politikus asal Kabupaten Buleleng, Bali, yang pada Pemilu 2014 mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) itu.

Pasek mengklaim sebagai pendiri ormas tersebut bersama Anas Urbaningrum yang berstatus sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek kompleks olahraga terpadu di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Saya dan kawan-kawan memilih kata ‘perhimpunan’ berdasarkan sejarah pejuang kita yang bersekolah di Belanda. Kemudian ketika kembali ke Indonesia, mereka membentuk ‘pergerakan-pergerakan’,” katanya.

Terkait deklarasi PPI yang bersamaan dengan pemaparan visi dan misi calon presiden berdasarkan hasil konvensi Partai Demokrat, Pasek menganggapnya sebagai kebetulan belaka.

“Kebetulan saja harinya sama. Tapi jamnya berbeda,” ujarnya berdalih.

Ia juga melihat nama 11 capres hasil konvensi Partai Demokrat merupakan orang-orang berkualitas.

“Mestinya inisiatif Demokrat harus diapresiasi. Konvensi itu ruang yang disediakan partai bagi orang-orang di luar partai. Calon-calon hasil konvensi semuanya top,” katanya.

Terkait kasus korupsi yang disangkakan terhadap Anas, dia mengingatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mencermati hasil audit investigasi I dan II Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Hasil audit I dan II BPK menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada aliran dana dari Adhikarya ke Mas Anas. Kalau tidak yakin dengan itu, silakan perkarakan ke pengadilan,” kata Pasek. (VAL/ANT)