Hebatnya Suku Intha, Mendayung Dengan Kaki Mereka

Foto: Insiderasia

Taunggy, Sayangi.com – Sudah pernah berkunjung ke Yangon, Bagan, atau malah sudah ke Mandalay? Tiga kota besar Myanmar itu memang sangat menarik untuk di kunjungi. Masing-masing memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Masih ingin menjelajahi Myanmar lebih jauh? Silahkan singgah ke kawasan Danau Inle. Kawasan perairan Inle ini terletak di Nyaungshwe Township, di distrik Taunggyi Propinsi Shan, dan merupakan wilayah dari area Shan Hills.

Danau seluas 2 km ini memang bukan kawasan wisata semegah di Yangon atau Bagan. Namun justru itu itulah daya tariknya. Kehidupan Danau Inle menawarkan sensasi wisata yang berbeda, ketenangan dan lansekap perairan serta peradaban disekitarnya akan membuat kamera anda seakan terus bergerak untuk memotret. Athmospher disekitarnya memberikan relaksasi tersendiri bagi jiwa. Belum lagi keunikan suku Intha yang menghuni kawasan perairan tenang ini. Membuat Danau Inle makin di gemari sebagai salah satu wisata adat di Myanmar.

Suku Intha adalah satu-satunya suku yang mendiami kawasan perairan Danau Inle. Paras dan rupa mereka tak berbeda dengan orang Myanmar lainnya, masih dengan Longyi yang dililitkan sebagai pakaian harian mereka, thanaka di pipi para wanita suku Intha juga masih nampak terlihat. Cara hidup mereka lah yang nampak jauh berbeda dari penduduk kota besar.

Berdindingkan kayu dan bambu sederhana mereka membangun rumah panggung di tepian Danau Inle. Sampan dayung hingga sampan motor menjadi alat transportasi utama di kawasan hunian suku Intha. Banyak sampan-sampan motor yang digunakan untuk transportasi umum, dengan kursi kayu yang dijejer ke belakang, mereka mengantarkan para wisatawan berkeliling Danau Inle. Sedangkan sampan dayung biasanya menjadi alat transportasi wajib yang dimiliki setiap rumah di kawasan ini.

Uniknya, mereka tidak menggerakan sampan dengan dayung di tangan. Inilah keunikan dari Danau Inle, budaya suku Intha untuk menggerakan dayung sampan adalah dengan menggunakan kaki. Dengan melilitkan tungkai kaki ke batang dayung, mereka mulai menggerakkan dayung di permukaan air. Unik, konon ini adalah budaya turun temurun suku Intha dalam keseharian mereka. Alasan kuat menagapa mereka memilih kaki sebagai alat bantu menggerakan dayung konon karena tekstur perairan di kawasan Danau Inle tertutup oleh rumput dan tanaman air lainnya. Untuk memudahkan dayungan dari rumput-rumput air, mereka harus berdiri dan menggunakan tenaga kaki mereka.

Peran Danau Inle sebagai sumber kehidupan suku Intha memang tak perlu diragukan. Suku Intha melangsungkan hidup dengan bercocok tanam di kawasan perairan tersebut. Dengan membuat kebun-kebun apung, mereka menghasilkan sayur-mayur atau buah-buahan, baik untuk dikonsumsi sendiri ataupun di jual ke pasar diluar kawasan Danau Inle.

Berwisata di danau Inle tak sekedar mengamati dan menikmati gaya hidup Suku Intha, lebih dari itu ciri khas wisata Myanmar masih lekat di kawasan ini. Masyarakatnya yang mayoritas pemeluk Agama Buddha yang taat, tak heran di kawasan perairan seperti ini juga masih terlihat banyak biara dan Pagoda. Bahkan di tengah-tengah danau, mereka mendirikan pagoda mini yang didalamnya didiami patung Budhha.

Untuk mendapatkan kemeriahan wisata di Inle Lake, cobalah berkunjung pada bulan September atau Oktober. Anda akan mendapatkan Inle sangat meriah dengan perayaan Phaungdawoo Festival. Lebih dikenal sebagai Kompetisi dayung Myanmar. Ratusan warga Myanmar merayakan Pesona Teluk Naga Festival, dengan cara mengikuti kompetisi mendayung menggunakan kaki di danau Inle. Atribut adat hingga atribut keagamaan nampak menghiasi perahu-perahu yang di lombakan. (FIT/Insiderasia)