Mantan Paus Benediktus Bantah Tutupi Pelecehan Seksual

Foto: Antara

Vatikan, Sayangi.com – Mantan Paus Benediktus membantah mencoba menutupi pelecehan seksual anak-anak oleh sejumlah pendeta Katolik Roma, dalam pernyataan langsung pertamanya setelah mengundurkan diri.

Pernyataan itu disampaikan dalam bentuk surat 11 halaman kepada penulis dan matematikawan Italia Piergiorgio Odifreddi, yang menulis buku tentang masalah gereja Katolik Roma sebelum undur diri Paus itu pada Febuari.

“Terkait penyebutan Anda tentang pelecehan moral terhadap anak-anak di bawah umur oleh para pendeta, saya hanya bisa, seperti yang Anda tahu, mengakuinya dengan kekhawatiran mendalam. Tapi saya tidak pernah berusaha menutup-nutupi hal-hal ini,” kata Benediktus, yang kini memperoleh gelar Paus Emeritus itu.

Kutipan surat Paus Benediktus diterbitkan oleh suratkabar Roma “La Repubblica” pada Selasa, atas izin mantan paus itu.

Hal ini diyakini sebagai reaksi pertama secara langsung Benediktus terhadap tuduhan pelecehan seksual meskipun Vatikan selalu mengatakan ia telah berbuat banyak untuk mengakhiri pelecehan seksual anak-anak dibawah umur oleh para pendeta katolik dan tidak pernah mencoba untuk menutupinya.

Itu juga untuk pertama kalinya sejak Benediktus mengundurkan diri pada 28 Februari lalu bahwa sesuatu yang ditulis atau dikatakannya secara langsung diterbitkan. Meskipun beberapa orang yang telah mengunjungi dia di rumah Vatikan tempat ia tinggal di masa pensiun secara tidak langsung melaporkan pernyataan dia kepada mereka.

Kelompok korban (pelecehan seksual) menuduh Benediktus tidak berbuat cukup untuk menghentikan aksi kekerasan atau pelecehan para pendeta katolik terhadap anak-anak saat dia menjabat sebagai paus dan sebelumnya ketika ia menjabat sebagai kepala kantor doktrin Vatikan.

Mereka mengatakan masih ada banyak yang harus diungkap tentang bagaimana tindak tanduk gereja di masa lalu dan menginginkan para pendeta yang mengetahui pelecehan seksual terhadap anak-anak itu bertanggung jawab.

Krisis gereja katolik terungkap di Boston pada tahun 2002 saat media mulai melaporkan bagaimana kasus pelecehan seksual secara sistematis ditutup-tutupi dan pendeta pelaku pelecehan seksual dipindahkan dari paroki ke paroki dan bukannya dikeluarkan dan diserahkan kepada pihak berwenang sipil.

Sejak saat itu, gereja katolik di banyak negara telah membentuk pedoman baru untuk menangani kasus pelecehan seksual di masa lalu, , mencegah kasus pelecehan seksual baru terjadi, pelaporan pelecehan seksual kepada polisi, dan menghentikan pelaku pelecehan seksual potensial bergabung menjadi pendeta.

Sisa surat dari Paus Benediktus kepada Odifreddi itu merujuk pada aspek lain dari buku penulis , yang berjudul, “Dear Pope, I Am Writing You”, seperti konflik antara kebaikan dan kejahatan. (reuters)