IHSG Melemah, Rupiah Ikut Melemah

Foto : Sayangi.com/Ilyas

Jakarta, Sayangi.com – Tidak adanya kepastian stimulus the Fed, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu kembali dibuka melemah ke posisi 4.390,24 poin.

Itu artinya, IHSG dibuka turun 70,18 poin (1,57 persen). Indeks 45 saham unggulan pun juga melemah 14,41 poin (1,92 persen) ke level 734,79.

“Ketidakpastian mengenai program stimulus the Fed dan pembahasan anggaran pemerintah AS mengenai ‘debt ceiling’ yang akan berakhir pada 1 Oktober 2013 mendatang menjadi salah satu faktor bursa saham melanjutkan pelemahan,” ungkap Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang di Jakarta, Rabu (25/9).

Edwin juga menilai, kondisi ekonomi belum menemukan titik terang. Bahkan Badan Pusat Statistik (BPS), seiring berlakunya mobil murah, justru mendorong terjadinya inflasi.

“Setidaknya, penjualan mobil murah akan menambah konsumsi bahab bakar minyak bersubsidi,” terang Edwin.

Sedangkan Kepala Riset PT Trust Securities Reza Priyambada, lebih menyoroti berlarut-larutnya spekulasi perihal plafon utang di AS membuat investor menahan diri dan memilih untuk keluar dari pasar saham.

Hal itu, tambah Reza, juga berimbas melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS. “Akibatnya proyeksi neraca transaksi berjalan diperkirakan bakal tetap defisit,” katanya.

Rabu (25/9) pagi, nilai rupiah dibuka melemah ke posisi Rp11.500 per dolar AS. Padahal sebelumnya hanya Rp 11.200 per dolar AS.

Reza juga mengungkapkan, laju pelemahan rupiah juga sebagai imbas dari melemahnya mata uang euro terhadap dolar AS. “Pelaku pasar masih menunggu dan mengantisipasi pembahasan fiskal AS,” tandas Reza.

Apalagi, imbuh Reza, adanya sentimen dari spekulasi banyaknya perusahaan Indonesia yang membutuhkan dolar AS tentu membuat rupiah makin terpuruk.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Mirza Adityaswara menenagkan masyarakat agar tidak terlalu khawatir menghadapi gejolak rupiah. Niscaya, ungkap Mirza, mata uang domestik termasuk rupiah akan menemukan keseimbangan barunya.

“Kalau kita sudah bisa mengatasi defisit neraca Indonesia, dan mengurangi utang dolar AS maka nanti rupiah akan menguat pelan-pelan. Jangan terlalu khawatir karena di level sekarang ini rupiah justru sedang mencari ekuilibrium baru, kalau rupiah dipaksa menguat bisa ‘unstability’,” beber Mirza.

Toh demikian, Mirza mengharapkan para pengambil keputusan terus menjaga pergerakan rupiah agar tidak jatuh terlalu dalam. (MARD)

Berita Terkait

BAGIKAN