Samantha Lewthwaite Diduga Kuat Pelaku Penyerangan

Foto: The Telegraph

Nairobi, Sayangi.com – Empat hari krisis penyanderaan di Kenya tampaknya akhirnya mencapai akhir berdarah tadi malam (24/9), dengan kecurigaan yang berkembang bahwa perempuan pembalap Inggris, Samantha Lewthwaite adalah salah satu teroris yang membantai sedikitnya 67 orang.

Uhuru Kenyatta, presiden Kenya, mengatakan tak terkatakan kekejaman di pusat perbelanjaan Westgate. Meski sudah berakhir, ia mengaku menderita kerugian yang sangatlah besar. Tiga lantai mall terbesar dan tersohor itu telah runtuh karena lalapan api yang dimulai untuk menimbulkan kepanikan oleh teroris. Entah berapa jumlah jiwa yang terperangkap di antara reruntuhan itu. Hingga kini masih terus dilangsungkan proses evakuasi.

Setidaknya 61 warga sipil dan enam anggota pasukan keamanan tewas dalam pengepungan, meskipun angka tersebut kemungkinan akan meningkat secara signifikan, sebab Palang Merah mengatakan 51 orang masih dinyatakan hilang.

Enam warga Inggris tewas, termasuk seorang pria bernama Mohan Mistry, seorang staf rumah sakit. Lima teroris tewas dan 11 ditangkap.

“Kami malu atas kejadian ini dan kami berusaha mengalahkan penyerang kami. Kini sebagian dari tugas kita telah selesai. Kami juga telah mengantongi spekulasi bahwa yang melakukan kejahatan ini adalah Lewthwaite, seorang mualaf yang dikenal sebagai janda putih yang menikahi Germainy Lindsay, salah satu dari pembom 7 Juli di London. Dalam serangan itu dikatakan seorang wanita Inggris yang terlibat dalam terorisme “banyak kali” dikatakan dibunuh oleh tentara. Meski, badan intelijen Kenya mengaku tidak tahu pasti apakah dia benar-benar sudah mati.

Spekulasi lain yang muncul adalah bahwa orang-orang bersenjata itu telah menyewa unit di dalam mall sehingga mereka bisa menimbun senjata dengan mudah. Pasukan keamanan Kenya harus menaklukan perangkap yang ditempatkan di sekitar mall sebelum akhirnya serangan mereka berakhir.

Al – Shabaab, kelompok teroris Somalia yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu , tampaknya membual di Twitter bahwa pembantaian itu mengatasnamakan “Woolwich” (referensi untuk pembunuhan Drummer Lee Rigby di selatan-timur London awal tahun ini).

Namun, Kenyata meyakinkan bahwa, laporan-laporan intelijen telah menyampaikan bahwa seorang wanita Inggris dan dua atau tiga orang warga Amerika mungkin telah terlibat dalam serangan itu karena saksi mata melihat mereka menjadi bagian dari kelompok bersenjat yang melakukan serangan.

“Kita belum bisa mengkonfirmasi dengan detail saat ini, tetapi para ahli forensik sedang bekerja untuk memastikan kebangsaan para teroris,” katanya. Kenyatta mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan mengatakan, “Kami telah terluka parah , tapi kami telah berani, bersatu dan kuat . Kenya telah menatap jahat dan menang,” katanya.” ujar Kenyata.

Amina Mohamed, Menteri Luar Negeri Kenya, mengatakan bahwa ada seorang wanita Inggris yang terlibat dalam serangan itu. Dan ia juga meyakini bahwa wanita itu telah melakukan serangan berkali-kali. Ia juga mengklaim bahwa tersangka yang diduga warga Amerika itu adalah remaja.

Kecurigaan bahwa Lewthwaite adalah salah satu teroris yang menjadi dalang penyerangan meningkat saat departemen urusan Afrika Selatan mengatakan, pihaknya sedang menyelidiki klaim bahwa Lewthwaite telah menggunakan paspor palsu Afrika Selatan untuk memasuki Kenya. Lewthwaite, dari Aylesbury, Bucks, memiliki sejarah menggunakan paspor palsu . Diduga bahwa dia menyamar sebagai Afrika Selatan yang disebut Natalie Faye Webb.

Wanita, yang memberikan namanya hanya sebagai Caroline, bersembunyi di bawah display disuruh berdiri ketika dia bertatapan mata dengan wanita di balkon lantai atas.

“Dia berada di lantai atas tetapi tidak jauh dari saya. Kami cukup dekat sehingga aku dapat melihatnya sedang sepanjang lantai di mana aku berdiri sampai akhirnya dia melihat saya. Dia berhenti dan kemudian melepaskan tembakan. Namun untungnya semua peluru tidak ada yang menembus diri saya. Saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Dia memiliki kulit pucat dan rambut hitam panjang. Saat itu ia mengenakan atasan hitam, longgar,” jelasnya. Namun, seorang juru bicara al- Shabaab membantah bahwa ada perempuan yang terlibat. (FIT/ The Telegraph)