Satu Cerminan, Pendeta Italia dan Makam Raja Fahd

Foto: gizanherbal.wordpress.com/

Sayangi.com – Ihwal makam Ustad Jefri (Uje) jadi kontroversial. Bermula karena Ustad Aswan (saudara Uje) dan keluarga ingin memugar makam Uje yang tidak disetujui Pipik, isteri almarhum Uje. Menurut Pipik, pesan Uje ingin makamnya sederhana saja, seperti umumnya makam-makam lainnya. Tetapi, ustad Aswan pun menjawab kasar, sampai-sampai status Pipikpun disoal habis-habisan. Maka, lucu-ramailah dunia infotaiment di negeri ini.

Seharusnya, persoalan ini tidak perlu diketengahkan ke ruang publik. Cukuplah persoalan itu diselesaikan secara kekeluargaan. Bukankah semua persoalan dapat diselesaikan dengan dialog. Apalagi keluarga Uje ini merupakan keluarga yang Islami dan terdidik.

Tapi terlepas masalah tersebut, sekadar satu perbandingan, Sayangi.com, mengajak pembaca melihat satu makam milik Raja Fahd, seorang raja Arab. Sebagai seorang Raja yang kaya raya tentu saja keluarga Fahd lebih dari mampu jika mau membuat makam yang mewah, tetapi tidak dilakukannya. Makam Raja Fahd ternyata sangat sederhana, sesuai dengan tuntunan Islam yang mereka pahami.

Kesederhanaan ternyata satu kekuatan. Hebatnya, makam Raja Fahd yang sangat sederhana itu malah memikat seorang pendeta terkenal Italia mengubah keyakinannya masuk Islam.

Ketika pendeta terkenal di Italia menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, dia langsung mengumumkan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi setelah ia melihat betapa sederhananya prosesi pemakaman jenazah yang jauh dari pengeluaran biaya yang mahal dan berlebihan.

Sang mantan pendeta telah mengikuti secara seksama prosesi pemakaman sang Raja yang bersamaan waktunya dengan jenazah yang lain. Ia melihat tidak ada perbedaan sama sekali antara kedua jenazah tersebut. Keduanya sama-sama dishalatkan dalam waktu yang bersamaan.

Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam tersendiri pada dirinya sehingga gambaran persamaan di dalam Islam dan betapa sederhananya prosesi pemakaman yang disaksikan oleh seluruh dunia di pekuburan ‘el-oud’ itu membuatnya masuk Islam dan mengubah kehidupannya. Tidak ada perbedaan sama sekali antara kuburan seorang raja dan penguasa besar dengan kuburan rakyat jelata.

Salah seorang pengamat masalah dakwah Islam mengatakan, kisah masuk Islamnya sang pendeta tersebut setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh mengingatkan pada upaya besar yang telah dikerahkan di dalam mengenalkan Islam kepada sebagian orang-orang Barat. Ada seorang Da’i yang terus berusaha sepanjang 15 tahun untuk berdiskusi dengan pendeta ini dan mengajaknya masuk Islam. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil hingga ia sendiri menyaksikan prosesi pemakaman Raja Fahd yang merupakan pemimpin yang dikagumi dan brilian. Baru setelah itu, sang pendeta masuk Islam.

Sang Muslim baru yang mengumumkan keislamannya itu pada hari prosesi pemakaman jenazah pernah berkata kepada Dr al-Malik, “Buku-buku yang kalian tulis, surat-surat kalian serta diskusi dan debat yang kalian gelar tidak bisa mengguncangkanku seperti pemandangan yang aku lihat pada pemakaman jenazah raja Fahd yang demikian sederhana dan penuh toleransi ini.”

Ia menambahkan, “Pemandangan para hari Selasa itu akan membekas pada jiwa banyak orang yang mengikuti prosesi itu dari awal seperti saya ini.”

Ia meminta agar kaum Muslimin antusias untuk menyebarkan lebih banyak lagi gambaran toleransi Islam dan keadilannya agar dapat membekas pada jiwa orang lain. Ia menegaskan, dirinya telah berjanji akan mengerahkan segenap daya dan upaya dari sisa usianya yang 62 tahun in untuk menyebarkan gambaran Islam yang begitu ideal. Semoga Allah menjadikan keislamannya berkah bagi alam semesta.

(Sumber:  gizanherbal.wordpress.com)

Berita Terkait

BAGIKAN