Ikrar : Survei Tak Selalu Sesuai Kehendak Rakyat

Foto : Antara

Jakarta, Sayangi.com – Pengamat Politik Ikrar Nusa Bhakti tidak setuju adanya dikotomi Daulat Rakyat dan Daulat Survei. Sebab kedua hal itu bisa disinergikan.

“Saya sebagai orang yang pernah menimba ilmu di Australia, hingga sekarang kalau orang mau tahu siapa capres yang terkuat di Australia itu dari hasil survey,” ucap Ikrar di acara Diskusi bertajuk “Daulat Rakyat Vs Daulat Survei” yang diselenggarakan oleh Kaukus Muda Indonesia (KMI), di Gallery Cafe, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (23/9).

Selain Ikrar Nusa Bhakti, hadir pula narasumber Boni Hargens, Arbi Sanit dan politisi PDI Perjuangan Maruarar Sirait dan dipandu oleh Rouf Qusyairi.

Memang, tandas Ikrar, popularitas Capres dari hasil survey itu turun naik. “Sifatnya tergantung isu-isu apa yang lagi hangat saat survey dilaksanakan,” ucapnya. Toh demikian, Ikrar tidak menampik hasil survey belum tentu sejalan dengan kehendak rakyat.

Hasil survey pun, beber Ikrar, bisa meleset. Contohnya di Pilkada DKI Jakarta. “Saat itu tidak satu pun lembaga survey mengatakan Jokowi pemenangnya. Toh kenyataannya, Jokowi yang menang,” jelasnya.

Persoalannya, ungkap Ikrar mengaku mengutip pendapat Pakar Komunikasi Efendi Ghazali, adalah bila lembaga survey sudah menjadi konsultan pemenangan kandidat.

Toh demikian, Ikrar berharap lembaga survey benar-benar dapat dipercaya dan menjadi bagian dari pembangunan demokrasi di Indonesia.

“Sepanjang lembaga survey itu dananya dari mana, metodologinya seperti apa, artinya bisa dipertanggung jawabkan dan respondennya itu juga transaparan, tapi kalau hal sudah tidak dapat dipenuhi maka perlu dipertanyakan,” tegas Ikrar.

Namun Ikrar mengingatkan, selain peran lembaga survey, peran sosial media yang mengisi ruang publik secara independen. “Saat lembaga survey menjadi industri politik, harapan kita bertumpu ke sosial media,” pungkas Ikrar Nusa Bhakti. (MARD)