Hasrat Menabung di Eks Karesidenan Surakarta Meningkat

Foto: wordpress.com

Solo, Sayangi.com – Kegiatan perbankan di wilayah eks Karesidenan Surakarta meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, tercermin dari meningkatnya perkembangan aset, kredit/pembiayaan, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan.

Total aset perbankan pada Agustus 2013 meningkat 16,73 persen karena meningkatnya beberapa indikator, yaitu kredit/pembiayaan sebesar 25,56 persen menjadi Rp 43,31 triliun dan DPK sebesar 14,88 persen sehingga menjadi Rp 38,53 triliun, kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo Ismet Inono, kepada wartawan di Solo, Selasa (1/10).

Ia mengatakan, dilihat dari komposisi DPK, tabungan masih menjadi primadona dengan pangsa sebesar 52,81 persen atau mencapai Rp 20,35 triliun, pangsa tersebut meningkat tipis bila dibandingkan dengan bulan lalu sebesar 52,28 persen.

Dominasi pilihan tabungan antara lain disebabkan oleh relatif mudahnya dalam penarikan dan setoran sekaligus keamanannya meskipun dengan bunga yang lebih rendah dibanding simpanan bentuk lain. Kemudian, disusul deposito dengan pangsa sebesar 31,74 persen atau sebesar Rp 12,23 triliun dan terakhir giro dengan pangsa sebesar 15,45 persen atau sebesar Rp 5,95 triliun.

Ia mengatakan, dari sisi kelompok bank, kontributor utama peningkatan total aset berasal dari peningkatan aset bank pemerintah sebesar 19,72 persen, selanjutnya bank swasta sebesar 16,93 persen.

Dikatakan, sementara porsi kepemilikan aset, bank pemerintah tercatat sebesar 52,62 persen, dan oleh bank swasta 47,38 persen. Dengan distribusi lokasi menurut wilayah Kota Surakarta 72,16 persen, Kabupaten Klaten 5,47 persen, Kabupaten Sragen 5,35 persen, Kabupaten Sukoharjo 5,12 persen, Kabupaten Karanganyar 4,75 persen, Kabupaten Boyolali 3,60 persen dan Kabupaten Wonogiri 3,54 persen Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum dan BPR pada bulan Agustus 2013 mengalami peningkatan sebesar Rp 4,99 triliun (14,88 persen ) dari Rp33,54 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp 38,53 triliun.

Peningkatan DPK terutama karena meningkatnya giro sebesar 17,58 persen, diikuti tabungan 14,56 persen dan deposito sebesar 14,14 persen. Peningkatan ini dapat diartikan adanya peningkatan daya beli masyarakat sehubungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tercermin dari meningkatnya pendapatan atau adanya perubahan dari pola komsumsi menjadi pola investasi dalam bentuk simpanan.

Selanjutnya, berdasarkan lokasi penghimpunan dana, Kabupaten Sukoharjo tercatat memiliki pertumbuhan DPK terbesar yaitu tumbuh 24,59 persen menjadi Rp3,41 triliun, diikuti Kabupaten Klaten yang tumbuh 18,71 persen menjadi senilai Rp 4,28 triliun dan Kabupaten Sragen mengalami peningkatan sebesar 17,50 persen menjadi Rp 2,65 triliun. (MSR/ANT)