Menyesap Hangatnya Kopi Joss di Angkringan Lek Man

Foto: Henerea.wd

Jogjakarta, Sayangi.com – Tak hanya waktu siang, di malam hari pun Jogja menawarkan banyak hal tradisonal untuk dicicipi. Salah satu yang menyajikan menu tradisional khas Jogja adalah angkringan Lek Man. Ini adalah tempat hangout dengan konsep lesehan tradisional ala Jogjakarta. Letaknya di sudut jalan stasiun kereta api Tugu. Seratus delapan puluh derajat terbalik dari tempat-tempat hangout di Jakarta yang berupa mall atau kafe, angkringan Lek Man hanya berbentuk lesehan di pinggir jalan, dengan beberapa lembar tikar yang di gelar di trotoar jalan di bawah temaramnya lampu. Menu yang ditawarkan pun sederhana. Namun suasananya akan menenggelamkan anda di sudut keklasikan Jogjakarta.

Yang khas, penjaja makanan ini menggunakan dua bakul yang dihubungkan bambu lengkap dengan anglo arang di tengahnya, nah itu yang disebut angkringan. Gelas-gelas tertata rapi, dengan rangkaian nampan plastik yang penuh dengan citarasa menu Angkringan.

“Wahh, rupanya ini lebih ramai dari kafe-kafe di Jakarta,” gumam salah satu pengunjung asal Jakarta. Penuh dengan mahasiswa, pekerja, hingga wanita karir, bahkan beberapa artis kondang pun pernah mampir ke kawasan ini. Tak heran, untuk duduk di selembar tikarnya pun masih harus antri. Di kawasan ini memang gudangnya angkringan, tetapi yang paling laris di serbu adalah tikar angkringan Lek Man.

Angkringan Lek Man adalah angkringan legendaris. Disebut-sebut sebagai pelopor pertama angkringan di Jogjakarta yang umumnya berasal dari daerah Klaten. Lek Man sendiri bernama asli Siswo Raharjo, yang merupakan putra Mbah Pairo, pedagang angkringan pertama di Yogyakarta yang berjualan sejak tahun 1950-an. Orang dulu menyebut angkringan sebagai “ting-ting hik” . Sejak 1969, menjamurlah angkringan-angkringan lain.

Menu-menu yang disajikan cukup beragam, tetapi cenderung ke jajanan atau lauk ringan tradisonal ala Jogja, terutama untuk menikmati suasana malam bersama teman. Menu makanan yang ditawarkan antara lain, ada sego kucing lengkap dengan oseng tempe atau sambal teri, aneka gorengan dan sate tusuk juga meramaikan nafsu makan pengunjung, ada sate telur, ada sate ati ampela, ada sate usus, gorengan tempe-tahu dan lain-lain. Terdapat juga potongan Jadah, citarasa ketan yang dipadatkan dan terasa gurih. Harganya pun murah meriah, untuk ukuran sego kucing dihargai seribu rupiah. Nasi nya pulen dengan bumbu oseng tempe teri nya sangat pas di lidah. Belum lagi citarasa minuman khasnya, yang bisa disajikan panas atau dingin.

Nah, ada pepatah mengatakan, belum lengkap ke Jogja kalau belum menikmati Kopi Joss. Ini adalah menu favorit pengunjung, sekaligus menjadi daya tarik penasaran bagi yang belum pernah mencobanya. Kopi Joss dibuat dengan bubuk kopi pilihan, diseduh dengan air panas mendidih. Yang unik dari Kopi Joss adalah bahan tambahan berupa arang yang diikutsertakan ke dalam kopi. Citarasa arang yang masih membara membuat kopi terasa menjadi jenis kopi robusta. Nikmat di sajikan dengan cemilan gorengan tempe mendoan atau tahu bacem, juga jadah. Apalagi jika menikmatinya bersama teman-teman, memperbincangkan hal-hal terhangat yang terjadi seputar kehidupan di sekitar anda, tak terasa malam pun sudah larut.

Sebutan Kopi Joss sendiri sebenarnya berasal dari arang panas yang dicelupkan ke dalam kopi panas hingga menimbulkan suara Josssss. Alhasil, nama kopi joss pun tercipta.

Tak perlu khawatir dengan makanan yang sudah dingin, anda bisa minta untuk dipanaskan lagi dengan cara dibakar/ di arang-arangi. Anda juga bisa memilih tempat duduk sesuai dengan kenyamanan anda. Untuk lebih leluasa mengambil jenis makanan anda bisa duduk didepan bakul angkringan, namun jika anda bersama teman-teman dengan jumlah banyak silahkan menikmati suasana malam Jogja di tikar-tikar yang sudah disediakan. (FIT)

Berita Terkait

BAGIKAN