Netanyahu Sebut Hassan Rouhani Serigala Berbulu Domba

Foto: telegraph.co.uk

Israel, Sayangi.com – Kecemburuan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu terhadap Hassan Rouhani, Presiden Iran nampaknya terus memuncak. Ia bahkan memperingatkan Amerika Serikat (AS) tidak bekerjasama dengan Iran.

Netanyahu menuding Presiden Rouhani punya tujuan sama dengan pendahulunya, Mahmoud Ahmadinejad yang dengan terang-terangan mengatakan tidak pada dunia untuk menghentikan program nuklir yang dikatakan dilakukan untuk misi perdamaian.

“Ahmadinejad adalah serigala berbulu domba. Rouhani adalah serigala berbulu domba,” Netanyahu meluapkan emosinya dalam pidatonya di depan sidang umum PBB.

Presiden Rouhani membantah keras negerinya tengah mengembangkan senjata nuklir untuk keperluan perang dan semacamnya. Tetapi menurut Netanyahu, Rouhani berupaya membodohi dunia.

Menurutnya, Israel tak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklirnya, meskipun jika negara itu tak lagi punya sekutu untuk menentangnya. Pernyataan Netanyahu dibalas dengan Iran. Iran menyebut bahwa komentar Netanyahu sangat memanas-manasi.

Netanyahu mungkin cemburu jika sekutu penyokong kuatnya punya relasi baru yang menurutnya akan merugikan mengingat, beberapa waktu terakhir telah mulai muncul tanda perbaikan hubungan atara AS dan Iran, dimana Presiden Rouhani dan Presiden AS Barack Obama berbicara lewat sambungan telepon untuk pertama kalinya antar pimpinan puncak dua negara dalam lebih dari 30 tahun terakhir.

Netanyahu mengatakan masa depan Israel terancam oleh Iran yang bersenjata nuklir dan mendesak agar negara lain terus mengenakan sanksi terhadap negara itu.

Namun kepada Netanyahu, Obama mengatakan pada hari Senin (30/9) bahwa opsi paksaan masih ada berkenaan dengan program nuklir Tehran. Menteri Luar Negeri Iran, Javed Zarif, merespon dengan menyebut Obama plin-plan terkait negosiasi antar dua negara.

Iran sendiri dijadwalkan ambil bagian dalam negosiasi penting terkait program nuklirnya di Jenewa tanggal 15 Oktober dengan sekelompok negara yang dikenal sebagai P5+1, termasuk AS, Rusia, Cina, Inggris, Prancis dan Jerman. (FIT/BBC)