Benarkah Jaksa Eka Hanya Terima Amplop, Tanpa Uang?

Ilustrasi foto: businessnewsdaily.com

Bandarlampung, Sayangi.com – Jika seorang penegak hukum sudah lebih dari sekali dicurigai menerima suap, tak ada jalan lain kecuali mawas diri. Baik bagi yang bersangkutan maupun atasannya. Akil Mochtar pun dulu berkali-kali lolos dari kecurigaan, tapi akhirnya tertangkap tangan.

Kasus serupa terjadi di Bandarlampung. Kepala Kejaksaan Negeri Bandarlampung, Widiyantoro menyatakan, sudah menanyakan kepada jaksa Eka Aftarini yang dituding menerima suap dan yang bersangkutan mengakui menerima amplop tapi bukan berisi uang seperti dituduhkan.

“Jaksa Eka telah diklarifikasi dan dia mengakui telah menerima amplop tapi bukan berisi uang, melainkan surat berita acara tahanan rumah bagi terdakwa yang saat itu masih berstatus tersangka,” kata Widiyantoro, di Bandarlampung, Selasa (8/10).

Sebelumnya, Maryati istri pertama terdakwa Deka yang dikenai pasal 279 KUHP tentang menikah tanpa izin istri pertama, menuding jaksa Eka Aftarini sebagai jaksa yang menangani perkara tersebut telah menerima suap dari terdakwa untuk tidak memperpanjang status penahanan rumahnya. Hal tersebut disampaikan seusai hakim mengeluarkan penetapan penahanan bagi terdakwa.

Widiyantoro menjelaskan, dalam berita acara tersebut harus ada tanda tangan ketua RT di lingkungan tempat terdakwa tinggal dan ada stempelnya, sehingga surat tersebut dititipkan pada tersangka agar dikembalikan kepada jaksa tersebut.

Pada pertemuan dengan Eka itu, Kajari Bandarlampung itu mengaku puas dan tidak akan meminta keterangan dari korban yang merupakan istri pertama terdakwa, mengingat keterangan bawahannya itu sudah dianggap mencukupi. “Saya sangat percaya terhadap anak buah, dan keterangannya pun sudah cukup karena dia sudah menyampaikan semuanya,” katanya pula.

Masalahnya, ini bukan kali pertama Eka dicurigai menerima suap dari mereka yang ingin kasusnya diperlancar. Jaksa Eka Aftarini, bersama Kasi Pidsus Kejari Bandarlampung Teguh, dalam perkara korupsi di PDAM Way Rilau Bandarlampung dikabarkan menerima uang dari terdakwa untuk memperkecil tuntutan hukum.

Dalam kasus tersebut, berawal dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Teguh Hariyanto yang dilaporkan telah menerima suap atas kasus dugaan korupsi PDAM Way Rilau sebesar Rp 10 juta dengan terpidana Haris Munandar yang telah divonis 2,5 tahun penjara.

Samsudin Sukarmin, mantan pengacara terpidana itu, mengaku telah memberikan uang sebesar Rp 10 juta dari keluarga terdakwa Haris Munandar yang diserahkan di tempat parkiran depan salah satu bank di Jalan WR Supratman Telukbetung Utara pada bulan Juni 2012 sekitar pukul 16.00 WIB.

Terungkap dalam kasus ini, ketika Samsudin mendapatkan ancaman yang isinya, “Sam segera menghadap Eka Aftarini dan Elis jika masih ingin bertemu anak dan istrimu selesaikan.” Dia pun belakangan mengetahui uang tersebut digunakan untuk meringankan tuntutan yang akan dibacakan saat sidang Haris Munandar, setelah mendapatkan pesan singkat tersebut.

Sejumlah pihak di Lampung mendesak adanya tindakan tegas bagi oknum jaksa maupun hakim di lingkungan kejaksaan di Bandarlampung dan Provinsi Lampung yang diduga memanfaatkan posisinya untuk mendapatkan uang dan keuntungan pribadi secara melanggar hukum.

Mereka mendesak kasus seperti itu tidak dibiarkan saja atau malah dilindungi oleh institusi maupun atasan masing-masing, karena hanya akan memperburuk penegakan hukum dan merusak citra aparatur penegak hukum di daerah ini. (MSR/ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN