Hadirnya Aurora Ini Dianggap Sebagai Tanda Kematian

Foto: ABC

Canberra, Sayangi.com – Bagi suku Aborigin di Australia, fenomena cahaya Aurora seperti terlihat dalam gambar di atas ternyata dianggap sebagai kemarahan dewa langit.

Sebuah penelitian yang baru-baru ini dipresentasikan di Space Science Conference Australia menemukan bahwa di masa lampau, Aurora Australis atau fenomena cahaya di belahan selatan dunia dulunya dianggap berhubungan dengan darah, api, dan kematian.

“Kepercayaan ini berbeda dengan cerita-cerita rakyat di kawasan lainnya seperti di Kanada, Siberia, Eropa Utara,” ujar Dr Duane Hamacher, salah satu peneliti dari University of New South Wales. “Komet dan gerhana dipandang sebagai pertanda buruk, meteor sebagai roh, dan aurora dipandang sebagai kebakaran,” tambahnya.

Studinya baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Astronomical History and Heritage, dokumen ilmiah dan sejarah terakhir, serta laporan jurnalistik dan cerita tradisional, lagu dan karya seni. Semua dokumen-dokumen ini dikumpulkan dari seluruh negara bagian dan kawasan di Australia, kebanyakan dari negara bagian Victoria dan Australia Selatan.

Secara ilmiah, aurora terjadi karena adanya partikel dari angin matahari yang disalurkan ke atmosfer dekat kutub oleh medan magnet bumi. Partikel ini menciptakan tirai warna-warni, seperti cincin cahaya. Warna yang dipantulkan tergantung pada partikel yang terionisasi. Molekul oksigen berwarna merah di dataran tinggi dan hijau di bagian lebih rendah.

“Jika Anda berada di daratan tinggi, maka dapat melihat warna yang lebih intens dan tampak seolah menari di langit. Inilah yang dulu dianggap sebagai roh menari, tetapi di belahan bumi sebelah utara tidak ada konotasi yang negatif,” jelas Dr Duane.

Menurut Suku Gunai di Victoria selatan, aurora dianggap sebagai manifestasi fisik dari kemarahan para dewa langit Mungan Ngour. “Dewa Mungan mengirimkan api kepada orang-orang yang dianggap tidak mematuhi hukum dan tradisi yang suci,” kata Dr Duane.

Menurutnya juga, budaya tradisional dari belahan bumi di sebelah selatan juga menganggap fenoma aurora sebagai sebuah kebakaran di langit. (MSR/ABC)