Pantau Kemacetan, Pengerjaan MRT Dilengkapi CCTV dan Web

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Pembangunan transportasi massal berbasis rel atau mass rapid transit (MRT) direncanakan akan dimulai pada Kamis (10/10). Atas pembangunan ini, jelas berdampak pada kemacetan.

“Selama proses pembangunan MRT, lalu lintas bakal terhambat dan kemacetan tak bisa dihindari,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestami, saat dikonfirmasi Sayangi.com, Selasa (8/10).

Untuk itu, kata Dono, pihaknya dan kontraktor pelaksana konstruksi akan terus melakukan sosialisasi secara berkala kepada masyarakat di kawasan tersebut yang terdampak pembangunan. Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk pengaturan lalu lintas.

“Kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat yang terdampak karena konstruksi proyek MRT Jakarta ini. Pekerjaan ini jelas akan mengganggu kenyamanan pengguna jalan,” katanya Dono.

Agar masyarakat mengetahui kondisi jalan saat pembangunan, lanjut Dono, pihaknya akan memasang CCTV yang langsung terhubung dengan laman PT MRT. CCTV dan laman akan mempermudah masyarakat bisa memantau kondisi lalu lintas di setiap lokasi pekerjaan dan mencari jalur alternatif.

“Kami juga berencana untuk memasang kamera pemantau atau closed circuit television (CCTV) di setiap titik pekerjaan,” ujar Dono.

Sebagaimana diketahui pembangunan stasiun MRT Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI) tersebut memiliki nilai proyek dengan menghabiskan dana mencapai 1,5 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 17 triliun. Masa pengerjaan konstruksi dimulai dari Oktober 2013. Proyek itu diperkirakan selesai dalam lima tahun ke depan, yakni pada akhir Desember 2017, sehingga pada kuartal pertama 2018 diharapkan dapat mulai beroperasi.

Pembangunan stasiun MRT jalur Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI) itu akan terdapat 13 stasiun sepanjang Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Tujuh di antaranya akan dijadikan stasiun layang, yakni di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sementara enam lainnya akan digunakan sebagai stasiun bawah tanah, yakni di Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI. (GWH).