BI Rate Bertahan di 7,25 Persen, Cadangan Devisa Membaik

Foto: sayangi.com/Emil Ondo

Jakarta, Sayangi.com – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Selasa (8/10)  memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 7,25%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 7,25% dan 5,50%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi A. Johansyah, dalam siaran persnya Selasa (8/10) siang mengemukakan, BI akan mencermati perkembangan perekonomian global dan nasional, serta akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan bahwa tekanan inflasi tetap terkendali, stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga fundamentalnya, serta defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang sustainable.

“Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan,” ujar Difi sembari mengatakan, bahwa BI meyakini kebijakan-kebijakan itu serta berbagai kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya akan mempercepat penyesuaian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat, dan mengendalikan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014.

Difi menambahkan, kinerja perekonomian di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Eropa dan Jepang belum kuat meski mulai menunjukkan perbaikan. Sementara itu, perekonomian negara berkembang dibayangi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi serta menurunnya kinerja transaksi berjalan dan pelemahan nilai tukar. Pada saat yang sama, penurunan harga komoditas masih terus terjadi, kecuali harga minyak.

Di pasar keuangan, lanjut Difi, masih terdapay sejumlah risiko terkait dengan penundaan kebijakan pengurangan stimulus The Fed (tapering), perdebatan debt ceiling dan penghentian sementara layanan pemerintah AS (government shutdown).

“Secara keseluruhan, melalui jalur perdagangan perkembangan perekonomian global tersebut memberikan tekanan pada kinerja ekspor negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” sebut Difi.

Sementara itu, melalui jalur keuangan perkembangan tersebut dalam jangka sangat pendek mendorong masuknya aliran dana non residen ke bursa saham dan obligasi kawasan, serta menguatnya mata uang Asia.

Melambat

Rapat Dewan Gubernur BI juga menilai, sejalan dengan pelemahan ekonomi global yang masih berlanjut, kinerja perekonomian domestik menunjukkan kecenderungan yang melambat. Perekonomian domestik diperkirakan tumbuh 5,6% di Triwulan III-2013 dan untuk 2013 masih berada pada kisaran 5,5%-5,9%.

“Kinerja ekonomi global yang masih melambat dan pergerakan harga komoditas yang masih cenderung menurun, mendorong masih terbatasnya kinerja ekspor,” jelas Difi A. Johansyah.

BI memperkirakan, konsumsi rumah tangga dan investasi masih tertekan sebagai dampak dari menurunnya daya beli akibat tingginya tekanan harga pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Kinerja perekonomian nasional diperkirakan akan membaik pada tahun 2014, sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang diperkirakan membaik. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh lebih tinggi mencapai 5,8% – 6,2%.

Neraca Pembayaran Membaik

Sementara itu, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III-2013 diperkirakan akan membaik. Defisit transaksi berjalan akan menyempit terutama dengan menurunnya impor seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan dampak pelemahan nilai tukar Rupiah. Di sisi lain, surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF) akan lebih besar, seiring kembali masuknya investor asing pada SBI dan SUN serta berkurangnya net jual asing atas saham domestik.

BI memperkirakan,  cadangan devisa pada akhir September 2013 akan menjadi 95,7 miliar dollar AS, meningkat dari posisi akhir Agustus 2013 sebesar 93,0 miliar dolar AS. Cadangan devisa pada akhir September itu setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Adapun nilai tukar rupiah, secara rata-ratamelemah 8,18% (qtq) ke level Rp 10.652 per dollar AS atau secara point to point Rupiah terdepresiasi 14,29% (qtq) ke level Rp 11.580 per dollar AS.

Menurut Difi, seperti halnya pelemahan mata uang negara-negara di kawasan Asia, depresiasi nilai tukar Rupiah terutama dipengaruhi penyesuaian kepemilikan nonresiden di aset keuangan domestik dipicu sentimen terkait pengurangan (tapering off) stimulus moneter oleh the Fed. Dari sisi fundamental, tekanan depresiasi Rupiah lebih besar dengan relatif tingginya defisit transaksi berjalan di Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI mengemukakan, pada akhir Triwulan III-2013 tekanan Rupiah berkurang sejalan dengan membaiknya kinerja inflasi dan neraca perdagangan serta sentimen positif penundaan tapering off oleh the Fed. Keyakinan pasar valas semakin pulih dengan permintaan dan penawaran yang semakin aktif dan berimbang dalam membentuk nilai tukar Rupiah di pasar.

“Bank Indonesia memandang bahwa perkembangan nilai tukar pada saat ini menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia,” jelas Difi. (Setkab)