Regulator Keuangan AS Bahas Kekhawatiran Plafon Utang

Foto: Reuters

Washington, Sayangi.com – Menteri Keuangan AS Jacob Lew mengumpulkan panel tingkat tinggi stabilitas keuangan pada Selasa, karena meningkatnya kekhawatiran bahwa kelumpuhan politik Washington akan memaksa negara itu mengalami gagal bayar (default).

Lew memimpin konferensi tertutup jarak jauh Dewan Pengawasan Stabilitas Keuangan (FSOC) untuk membahas ancaman kegagalan Kongres menaikkan batas utang 16,7 triliun dolar AS, yang bisa mengakibatkan departemen keuangan AS kekurangan uang pada 17 Oktober.

FSOC terdiri dari perwakilan regulator keuangan utama, termasuk Federal Reserve, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka (CFTC) dan Lembaga Penjamin Simpanan Federal (FDIC).

Departemen Keuangan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kelompok itu mendiskusikan apa yang mereka “dengar dari entitas yang diatur dan pelaku pasar lainnya” mengenai dampak dari penutupan sebagian kegiatan (shutdown) pemerintah dan tenggat waktu plafon utang yang kian dekat.

Selain itu, katanya, ketua CFTC dan SEC membahas bagaimana “shutdown”, dipaksa oleh anggota parlemen AS yang tidak menyetujui anggaran untuk tahun fiskal saat ini, telah mempengaruhi kemampuan mereka untuk memonitor dan merespon kejadian pasar.

“Kegagalan untuk menaikkan batas utang pada 17 Oktober akan menempatkan pemerintah Amerika Serikat dalam posisi tidak bisa mempertahankan operasinya dengan hanya uang tunai di tangan dan sangat dapat mempengaruhi pasar keuangan dan ekonomi yang lebih luas,” juru bicara Departemen Keuangan mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Departemen Keuangan juga mengatakan FSOC akan bertemu lagi dalam beberapa hari mendatang.

Lew telah memperingatkan berulang kali selama seminggu terakhir bahwa Departemen Keuangan akan mengerahkan segala daya upaya untuk beroperasi di bawah plafon utang pada 17 Oktober.

Dengan defisit kronis sekitar 60 miliar dolar AS per bulan, tidak dapat meminjam lebih banyak bisa memaksa Departemen Keuangan untuk gagal bayar pada beberapa kewajibannya.

Departemen Keuangan dan Gedung Putih telah menolak untuk mengatakan apa jenis pembayaran yang mungkin diprioritaskan, di tengah kekhawatiran negara itu bisa dipaksa untuk memilih antara membuat pembayaran suku bunga utangnya dan mengirimkan cek jaminan sosial kepada para pensiunan.

Ditanya pada Selasa apa yang akan menjadi pilihan, Presiden Barack Obama menjawab: “Tidak ada pilihan yang baik dalam skenario itu … Kami sedang menjajaki semua kontinjensi.”. (AFP)