Dhini Aminarti: Indonesia Masih Cocok Dipimpin Militer

Foto: Sayangi.com/Ami

Lembut dan cerdas, mungkin dua kata itu tepat untuk menggambarkan sosok Dhini Aminarti, artis nasional yang melejit lewat perannya dalam sinetron Wulan. Meski berprofesi sebagai artis, gadis berusia 30 tahun ini ternyata memiliki pengetahuan yang luas tentang sistem politik dan proses demokrasi di Indonesia.

Dalam wawancara khusus dengan reporter sayangi.com, Gayatri AA, artis yang bersuamikan Dimas Seto ini dengan fasih menyampaikan pikiran dan pandangannya tentang perbaikan lembaga kenegaraan. Menurutnya, institusi DPR harus diisi oleh figur yang memiliki integritas dan kualitas keilmuan yang mumpuni. Selain itu, Ia juga memiliki harapan tersendiri tentang figur Presiden RI yang akan datang. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bagaimana menurut Anda sosok Presiden saat ini?

Saya rasa sudah bagus. Artinya, lebih ada perkembangan dan kemajuan dari pemimpin yang sebelumnya. Tetapi ke depan mesti ada gebrakan dan terobosan baru. Karena menurut saya sudah ada sosok baru dan populer saat ini seperti Jokowi, yang langsung turun ke tengah-tengah masyarakat. Fenomena Jokowi ini bisa menjadi contoh bagi kepemimpinan Indonesia di masa depan. Jadi secara personal, saya lebih mengagumi dia. Meski begitu, bukan berarti pemimpin yang sekarang itu tidak  bagus.

Lalu Bagaimana tanggapan Anda tentang lembaga DPR dan institusi negara lainnya?

Ya bagus. Dalam arti, semua berjalan sesuai fungsinya, dan semua keburukan-keburukan yang ada lambat laun terbongkar. Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa dalam perspektif idelisme saya sebagai warga negara, kalau ingin menjadi anggota DPR atau pejabat apapun di negeri ini harus benar-benar mempertimbangkan unsur pendidikan. Artinya, dalam rekrutmen penyelenggara negara ataupun pejabat publik seperti DPR harus melalui seleksi yang ketat terhadap kapasitas intelektual dan latar belakang pendidikan yang bersangkutan. Jadi, jangan ada lagi kasus beli ijazah, karena itu hanya akan berdampak buruk terhadap  citra lembaga tersebut di mata masyarakat.  Selain itu, untuk mendapatkan wakil rakyat dengan kualitas dan integritas yang baik, perlu dilakukan psikotes secara lebih serius terhadap calon anggota legislatif. Selama ini test psikologi yang dilakukan lebih cenderung formalitas, padahal itu sangat penting untuk mengukur kepribadian dan kesehatan jiwa calon pejabat publik tersebut.

Terus, bagaimana pendapat Anda tentang kuota 30 persen Caleg perempuan di DPR?

Saya setuju. Tetapi kriterianya harus benar-benar memperhatikan unsur pendidikan seperti yang saya sebutkan tadi. Kecantikan dan penampilan penting, tapi di atas semua itu mereka harus memiliki pengetahuan yang luas, smart dan bisa membawa diri. Karena biasanya, wanita lebih mengedepankan aspek emosional.  Dalam beberapa kasus terakhir, saya menyayangkan keterlibatan politisi perempuan kita dalam pelanggaran hukum, padahal dari faktor pendidikan dan kualitas keilmuan mereka sangat memadai. Itu menandakan bahwa aspek pendidikan saja tidak cukup, tapi harus disertai dengan iman yang kuat.

Anda tidak tertarik terjun ke dunia politik?

Beberapa kali ada Partai Politik yang mengajak saya untuk bergabung dan saya menolaknya. Saat ini saya belum bersedia untuk memasuki dunia politik. Sistem politik dan pemerintahan yang ada belum sesuai harapan. Mungkin suatu saat jika sudah ada perbaikan signifikan dalam penerapan sistem demokrasi di negeri ini maka saya akan mempertimbangkan untuk mengabdi di dunia politik.

Harapan Anda untuk Presiden Indonesia selanjutnya?

Walaupun saya ngefans kepada Jokowi, tetapi saya berharap jangan sampai dia  mencalonkan diri jadi Presiden. Sebaiknya, dia menyelesaikan dulu tugasnya sebagai gubernur hingga selesai dan kelihatan hasilnya. Setelah itu, pada periode berikutnya dia bisa maju sebagai calon presiden. Kalau untuk Pemilu Presiden tahun depan, Indonesia masih lebih cocok dipimpin oleh militer. Menurut saya, Prabowo dan Anies Baswedan adalah pasangan yang cocok untuk memimpin Indonesia.