Hikmah Idul Adha: Perkuat Spirit Pengabdian kepada Bangsa

Foto: Sayangi.com

Jakarta, Sayangi.com – Pelajaran dari Idul Qurban dapat memperkuat spirit pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia. Kesediaan mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai sebagaimana dicontohkan nabi Ibrahim AS sesungguhnya bertujuan demi menggapai cita dan cinta yang lebih tinggi, yaitu kecintaan terhadap Allah SWT (mahabbatullah).

Demikian disampaikan oleh Prof. Dr.H.M. Faried Wadjedy, MA dalam khutbah Salat Idul Adha 1434 H dengan tema “Semangat Berqurban dan Pengabdian Bagi Negeri” di Majid Istiqlal, Jakarta Pusat, Selasa (15/10).

Dalam pelaksanaan salat Idul Adha ini, hadir Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono, bersama Wakil Presiden RI Boediono beserta Ibu Hj Herawati Boediono, dengan imam Salat Drs H. Hasanuddin Sinaga.

Menurut Faried, setidaknya ada tiga hikmah yang tersirat dari peristiwa qurban Nabi Ibrahim AS:

Pertama, tanggung jawab sebagai pondasi aktivitas. Nabi Ibrahim AS mencontohkan tingginya rasa tanggung jawab itu dalam menunaikan tugasnya. Ia berupaya mengabaikan egoisme individunya dan istiqamah terhadap amanah yang diembannya.

“Ia gigih menjalankan perintah Allah, kendati tidak sejalan dengan harapannya. Begitulah sejatinya kita menanamkan rasa tanggung jawab dalam keseharian, sehingga berimplikasi positif terhadap bangsa dan negara,” kata Faried.

Kedua, optimisme sebagai penopang kreativitas. Sebuah pengorbanan besar yang dicontohkan Nabi Ibrahim dan keluarganya yang harus merelakan buah hatinya di Makkah yang masih tak berpenduduk saat itu.

“Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa keberanian untuk mengambil risiko demi menghadapi tantangan merupakan salah satu cara yang harus ditempuh untuk meraih kemajuan,” tutur Faried.

Ketiga, kemampuan bekerjasama dengan pihak lain sebagai pemeliharaan kreativitas. Nabi Ibrahim dan Ismail mencontohkan kerjasama yang apik di saat mengutarakan maksudnya hendak mengorbankan putranya karena menjalankan perintah Allah Swt. Bak gayung bersambut, Ismail dengan lapang dada merespon dengan baik maksud ayahnya. Kendati yang disambelih ternyata seekor domba, karena Allah tidaklah menghendaki qurban dalam bentuk manusia, tetapi dalam bentuk hewan.

“Pengabdian untuk bangsa dan negara tidak dapat menihilkan peran kerja sama. Kebersamaan dan jalinan kekompakan untuk padu dalam keseharian juga menjadi prasyarat kesuksesan,” ujar Faried.

Berita Terkait

BAGIKAN