Inilah Pesan Tersirat di Balik Kisah Nabi Ibrahim, As

Foto: sayangi.com/Opak

Jakarta, Sayangi.com – Kisah Nabi Ibrahim alaihissalam akan selalu hadir dalam benak umat Islam. Ini tidak lain karena kisah-kisah itu sudah “dibukukan” dalam praktik haji bagi umat Islam yang juga diingatkan setiap Idul Adha (lebaran kurban).

Ada banyak pesan positif di balik kisah Nabi Ibrahim bersama keluarganya, Siti Hajar dan Nabi Ismail. Setidaknya yang paling menonjol di antaranya adalah sikap berbaik sangka. Sikap berbaik sangka ini lahir karena kuatnya keyakinan dan keimanan Ibrahim As kepada Allah Swt. Ini salah satunya terungkap dari kisah bagaimana Ibrahim meninggalkan Siti Hajar di perbukitan tandus saat hamil tua, sehingga ketika melahirkan Ismail terjadilah peristiwa yang dalam pelaksanaan haji disebut “sai dan marwah”.

Kisah baik sangka lainnya adalah ketika Ibrahim dengan sangat yakin akan menyembelih putranya, Ismail. Padahal Ibrahim melakukan itu hanya berdasarkan mimpi. Namun karena mimpinya berulang-ulang, ia menjadi sangat yakin bahwa mimpi itu adalah perintah Allah. Dari sini dikenallah istilah hari “tarwiyah” dan “arafah”, yakni tanggal 8 dan tanggal 9 Dzulhijjah.

Dalam kisah Ibrahim juga terlihat adanya kepatuhan seorang istri, yakni Siti Hajar pada Sang Suami, meski harus menerima kenyataan putranya akan disembelih. Kepatuhan juga diperlihatkan oleh Ismail dan Ibrahim yang melihat perintah penyembelihan itu adalah perintah Allah yang harus dipatuhi dengan sepenuh hati, tanpa keraguan.

Pesan lainnya adalah tepat janji. Nabi Ibrahim pernah berjanji akan memberikan apapun jika diberikan seorang putra oleh Allah, saat istri pertamanya, Siti Sarah tak kunjung dikaruniai seorang anak. Ibrahim pun tak henti-hentinya berdo’a, Robbi hab lii yang berarti “Berikan kami (seorang anak). Do’a ini pun terkabul setelah ia menikah dengan Siti Hajar. Namun rupanya, janji itu ditagih oleh Allah melalui perintah penyembelihan putranya. Ibrahim benar-benar mau menyembelih Ismail, tapi Allah segera mengganti Ismail dengan seekor kambing. Dari kisah ini, maka pada 10 Dzulhijjah dikenallah dengan istilah “Adha”, yakni kurban.

Berita Terkait

BAGIKAN