Setahun Memimpin, Apa Saja yang Telah Dicapai Jokowi-Ahok

Foto: Sayangi.com

Jakarta, Sayangi.com – Satu tahun yang lalu, yakni 15 Oktober 2012, pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Pada hari ini berarti genap setahun pasangan ini memimpin DKI Jakarta. Lalu, apa saja yang telah dicapai dan apa saja yang belum dicapai oleh pasangan yang hingga saat ini tetap serasi?

Menurut seorang ahli tata kota di Indonesia Nirwono Joga, dalam satu tahun pemerintahan Jokowi-Basuki telah membawa semangat perubahan terhadap kota Jakarta dan hal ini turut menyenangkan masyarakat.

“Selama satu tahun, kita bisa lihat, Jokowi-Basuki bisa membawa semangat perubahan, semangat untuk berbenah demi menciptakan Jakarta yang baru. Masyarakat pun ikut dibuat senang dengan terpilihnya mereka berdua sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017,” kata Nirwono ketika dikonfirmasi Antara, Selasa (15/10).

Meskipun demikian, Nirwono mencatat lima hal penting yang perlu digarisbawahi selama satu tahun kepemimpinan Jokowi-Basuki. Pertama, belum ada perubahan signifikan dalam penanganan kemacetan.

“Macet belum berkurang. Penambahan unit-unit armada angkutan umum berupa bus Transjakarta dan bus sedang belum direalisasikan. Kemudian, pembangunan MRT juga baru saja dimulai, jadi dampaknya belum bisa kita rasakan sekarang. Lalu, kebijakan ganjil genap dan penerapan jalan berbayar elektronik atau Electronic Road Pricing (ERP) yang belum ada kelanjutannya,” ujar dia.

Kedua, Nirwono menilai langkah penanganan masalah banjir di ibukota yang masih kurang, misalnya rencana pengerukan seluruh waduk, yakni dari total 42 waduk yang ada di Jakarta, baru dua yang dilakukan pengerukan, yaitu Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio. Kemudian, rencana normalisasi 13 sungai, revitalisasi 14 situ dan pembangunan sumur-sumur resapan yang belum terlaksana sepenuhnya.

“Ketiga, yaitu penataan kampung-kampung kumuh. Sebetulnya, realisasi rencana ini sudah bisa dilihat, namun kita masih harus menunggu untuk merasakan dampaknya secara keseluruhan, yakni Jakarta yang lebih rapi,” tutur dia.

Terkait penataan kampung kumuh, Nirwono mengapresiasi langkah Jokowi-Basuki untuk mengajak para pengembang swasta menunaikan kewajibannya, yakni berpartisipasi dalam pembangunan kota Jakarta melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di masing-masing perusahaan, sehingga mengurangi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

“Selanjutnya, yang harus dicatat, perluasan dan pengembangan RTH di Jakarta sampai dengan saat ini masih sedikit, yaitu dari target 30 persen, tapi baru direalisasikan 9,8 persen. Jelas ini masih sangat kurang dan harus lebih ditingkatkan lagi supaya bisa mencapai target,” ungkap dia.

Kelima, Nirwono juga mengapresiasi gebrakan Jokowi-Basuki yang berhasil melakukan penertiban PKL di ibukota sehingga di beberapa wilayah, terutama di pasar-pasar tradisional, para pedagang tidak lagi berjualan di trotoar atau di badan jalan, seperti yang sudah dilakukan di Pasar Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat.

“Ada sekitar 20 pasar yang harus dibenahi di kota ini, dan baru satu yang sudah dibenahi. Untuk menyempurnakan program penertiban PKL, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus membuat peta sebaran pedagang sekaligus melakukan pendataan dengan akurat, sehingga mempermudah dalam melakukan relokasi pedagang,” tambah dia. (ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN