Diserbu Ular, Lebak Bentuk Satgas Ular Berbisa

Foto: istimewa

Lebak, Sayangi.com – Jumlah korban gigitan ular berbisa di Kabupaten Lebak, Banten sangat tinggi. Dalam sebulan mencapai 50-70 kasus. Kondisi inilah yang kemudian memaksa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak untuk membuat Satuan Tugas (Satgas).

“Dengan terbentuknya Satgas ini diharapkan dapat memberikan pertolongan keselamatan bagi korban gigitan ular berbisa,” kata dr Nuly Juariah, Bagian Rekam Medis RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Senin (21/10).

Menurut dia, satuan tugas penanggulangan bencana gigitan ular tersebut menjalin kerja sama RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Dinas Kesehatan serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak.

Pembentukan satgas ini untuk memberikan pertolongan kepada warga yang terkena gigitan ular itu agar tidak menimbulkan kematian.

Sebab jumlah kasus gigitan ular di Lebak relatif tinggi antara 50 sampai 70 kasus per bulannya.

Bahkan, rumah sakit menangani kasus gigitan ular antara satu sampai dua orang per hari.

“Saya yakin dengan pembentukan satgas ini lebih efektif untuk penyelamatan dan pencegahan dari gigitan ular,” katanya.

Ia mengatakan, persiapan terbentuknya satgas penanggulangan bencana gigitan ular maka perlu adanya pelatihan-pelatihan bagi tenaga medis.

Pelatihan tersebut dimaksud untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis sehingga dapat memahami dengan baik cara-cara penanganan korban gigitan ular.

Selain itu juga terpenuhinya ketersediaan serum anti bisa ular (SABU) untuk melakukan pertolongan medis.

“Saya kira pembentukan satgas bencana ular urgensinya sangat penting untuk agar tidak terjadi kasus kejadian luar biasa (KLB),” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Venny Iriani mengatakan pihaknya sangat mendukung pembentukan satgas bencana gigitan ular karena wilayah Lebak cukup tinggi jumlah korban gigitan ular berbisa.

Berdasarkan laporan Januari-Juni 2013, tercatat 422 kasus gigitan ular berbisa jenis “ankistrodon rhodostoma” (ular tanah).

Saat ini, kata dia, mereka untuk mendapat pengobatan melalui rujukan ke pusat kesehatan masyarakat dan rumah sakit.

Ia menjelaskan jumlah kasus gigitan ular berbisa di Kabupaten Lebak sepanjang 2012 mencapai 599 kasus.

Meningkatnya kasus gigitan ular tersebut terjadi pada musim hujan karena banyak warga yang membuka ladang di hutan.

Selain itu, juga banyak ular berbisa mencari perlindungan di tempat-tempat yang sebenarnya terkena sinar matahari. Bahkan banyak ular berbisa berlindung di halaman rumah warga.

Mereka umumnya petani yang membersihkan hutan tanpa menggunakan perlengkapan keselamatan seperti sepatu karet.

“Kami meminta warga jika ke ladang maupun hutan menggunakan sepatu karet atau sepatu boot untuk mencegah gigitan ular berbisa,” ujarnya.(GWH/ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN