Pelayanan Macet, 2,8 Juta Pendaftar “Obamacare” Gagal

Foto: wealthreport.com

Washington, Sayangi.com – Dalam hari pertama peluncuran “Obamacare”, sebanyak 2,8 juta pengguna tercatat tidak berhasil mengakses laman pendaftaran Obamacare karena padatnya lalu lintas internet dan sejumlah masalah teknis.

Kendati demikian, Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Senin menegaskan bahwa program reformasi kesehatan yang diusungnya (“Obamacare”) bukan hanya sekedar ‘website’ pendaftaran layanan kesehatan.

“Izinkan saya mengingatkan semua orang bahwa Undang-Undang Layanan Kesehatan telah membantu banyak warga AS yang tidak memiliki asuransi,” kata Obama di Gedung Putih, setelah layanan administrasi kesehatan tersebut sempat bermasalah di sistem dalam jaringan (21/10).

“Anda mungkin tidak sadar, tetapi anda telah mendapat manfaat dari sejumlah ketentuan yang ada dalam undang-undang itu,” tegas Obama.

Obama mengatakan bahwa masyarakat AS tidak seharusnya merasa kapok dengan masalah yang terjadi pada sistem laman internet saat pendaftaran layanan kesehatan itu.

“Jangan biarkan masalah tersebut menjadikan anda malas mendaftar atau mendaftarkan keluarga anda, karena program tersebut benar-benar berguna dan menghemat pengeluaran anda,” katanya.

Pembelaan Presiden AS atas program kesehatan yang disebut sebagai “Obamacare” itu merupakan jawaban atas kritik yang dilontarkan pihak oposisi Republikan terkait masalah teknis yang terjadi saat pengisian formulir pendaftaran dalam jaringan.

Laman healthcare.gov telah dilanda sejumlah masalah teknis. Jaringan telepon dan kapasitas website tersebut melebihi kapasitasnya, sehingga penawaran layanan pemerintah tersebut tidak dapat diakses oleh mereka yang mengharapkannya.

Peluncuran Obamacare tetap berlangsung ditengah berhentinya layanan pemerintah AS (“shutdown”), yang disebabkan oleh penolakan oposisi Kongres atas rancangan Undang Undang itu.

Obama sendiri berjanji bahwa setidaknya enam dari sepuluh orang yang mengikuti program tersebut akan mendapat asuransi kesehatan senilai 100 dolar AS perbulannya. (VAL/AFP)

 

Berita Terkait

BAGIKAN