Tyasno: Nasionalisme Kita Menyedihkan

foto: Sayangi.com/Herdyanto

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Kasad Jend. Purn. Tyasno, mengatakan Setiap kali acara yang nuansanya kebangsaaan, kemanusiaan, keadilan dan kebenaran tidak semarak dan tidak diikuti oleh banyak orang. Tetaspi kalau acara kaum kapitalis pasti hebat dan penuh, ini tanda-tanda apa?

Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Tyasno dalam sambutan ketika acara bedah buku “Ambil Uangnya Jangan Pilih Orangnya”  karya Wilfridus Yons Ebit, di gedung juang 45, pada Sabtu (26/10).

Tyasno menyayangkan momentum kebangsaan seperti ini, orang-orang tidak tergerak secara sadar untuk ikut dan terlibat bersama mengahadiri.

“Ini zaman kemunafikan, orang bicara kebaikan-kebaikan, saya mencintai rakyat tetapi yang terjadi mereka menindas rakyat,” kata Tyasno..

Demokrasi dan hukum kita, kata Tyasno,  sudah dapat di beli. Kondisi ini menyedihkan. Harus ada perubahan ke arah keadilan. “Tahun politik ini merupakan tahun yang sangat menentukan bagi mas depan NKRI. Saat inilah kita tobe or no to be? Kita harus kembali mendapatkan jiwa dan kebangsaan indonesia,” jelas Tyasno.

Mengenai buku yang diluncurkan, Tyasno mengatakan, ini adalah ide baik sebagai pengingat agar kita tidak menggadaikan masa depan bangsa dan negara. “Saya mohon buku ini disebarluaskan, karena buku ini adalah pelajaran politik,” pinta Tyasno.

Dilanjutkan oleh Tyasano, tolok ukur yang harus kita pakai sebagai ukuruan kita dalam berbangsa adalah nilai bangsa kita, yakni Pancasila. Tetapi, sayannya Pancasila kini telah ditinggalkan bukan hanya oleh para pemuda tetapi juga oleh para tokoh.

“Saya sedih ketika mendengar komentar dari salah satu menteri yang saat di lantik mengatakan, ‘saat era globalisasi ini, nasionalisme, mari kita kantongi saja karena membuat jalannya ekonomi kita semakin lambat. Menteri apa itu?” tanya tyasno.

Selain jend.pur tyasno turut hadir pula anggota dewan pakar partai Nasdem Abdul Malik, tokoh Petisi 5 Chris Siner Keytimu dan sejumlah peserta. Acara diskusi ini dimoderatori oleh Imam Primadiyoko. (VAL)

Berita Terkait

BAGIKAN