Representasi PDIP-Golkar, Jokowi-Priyo Capres Alternatif

Foto: sayangi.com/istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Sebuah survei yang dipublikasikan di Jakarta, Minggu (27/10/2013) menyebutkan Gubernur DKI Joko Widodo dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso menjadi pasangan alternatif untuk calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu Presiden 2014 mendatang. Kedua tokoh muda tersebut menjadi representasi dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar.

“Peluang PDI Perjuangan dan Partai Golkar memenangkan Pilpres 2014 akan terbuka jika mereka mengusung capres alternatif. Jika kedua partai ini tidak mengeluarkan capres alternatif yang bisa menjadi senjata rahasia, maka kecil peluang mereka memenangi Pilpres 2014,” kata Peneliti Political Weather Station (PWS) Imam Sofyan.

Berdasarkan survei yang dilakukan PWS, elektabilitas Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie sebagai capres masih belum mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Posisinya hingga kini masih berada di urutan keempat dengan suara 10,9 persen.

Iklan gencar yang dilakukan Ical di televisi tidak juga melejitkan dukungan kepadanya.

“Bahkan Ical ditempel ketat Jusuf Kalla yang tidak beriklan di televisi,” katanya.

Begitu juga untuk Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebagai capres sulit melampaui elektabilitas Jokowi.

“Tingkat elektabilitas Jokowi sangat tinggi mencapai 70,1 persen,” kata Imam.

Survei PWS dilakukan pada 21 September – 24 Oktober 2013 di 34 provinsi. Jumlah responden yang disurvei sebanyak 1.070 orang dan sudah memiliki hak pilih pada Pemilu 2014 dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Dalam survei terhadap capres muda atau capres alternatif , PWS melakukan pengumpulan data dengan pertanyaan terbuka. Hasilnya, Jokowi menempati posisi tertinggi dengan 70,1 persen. Posisi kedua ditempati politikus muda Partai Golkar Priyo Budi Santoso (39,3 persen), diikuti Marzuki Alie (33,7 persen), Pramono Edhi (28,3 persen), Harry Tanoe Soedibyo (25,5 persen), Hidayat Nur Wahid (24,5 persen), Puan Maharani (15,7 persen), Anis Matta (14,3 persen), Khofifah Indarparawansa (11,7 persen), Suryadharma Ali (10,5 persen), dan Muhaimin Iskandar (9,4 persen).

Sementara untuk survei terhadap capres yang sudah resmi diusung atau sudah dimunculkan partai, Prabowo Subianto masih menempati urutan tertinggi dengan 16,7 persen. Diikuti Megawati (12,5 persen), Aburizal Bakrie (10,9 persen), Jusuf Kalla (9,4 persen), Surya Paloh (7,6 persen), Rhoma Irama (6,4 persen), Wiranto (6,1 persen), Mahfud MD (5,7 persen), Hatta Rajasa (4,2 persen), Yusril Ihza (2,1 persen), Suryadharma Ali (0,6 persen), Rahasia (3,8 persen), tidak menjawab (12,9 persen).

“Kami mengajukan pertanyaan tertutup terhadap responden untuk survei ini,” kata dia.

Dalam survei terhadap tokoh muda/capres alternatif di internal Partai Golkar, Priyo menempati urutan tertinggi 39,3 persen, Fadel Muhammad (7,5 persen), Hajriyanto (5,6 persen), Tantowi Yahya (4,1 persen), Idrus Marham (3,3 persen), nama lain (1,2 persen), dan tidak tahu/tidak jawab (38,7 persen).

Untuk PDI Perjuangan, Jokowi menempati posisi tertinggi dengan 70,1 persen, lalu Puan Maharani (15,7 persen), Pramono Anung (3,9 persen), dan tidak menjawab (10,1 persen).

Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata mengatakan kecenderungan capres yang berasal dari ketua umum dan ketua pembina atau dewan syuro partai politik sebaiknya diubah. Ia menyarankan agar parpol melakukan konvensi capres.

Dengan metode konvensi, para peserta diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk meyakinkan para dewan juri panel seperti memaparkan misi dan visi, peta jalan (road map) apabila kelak menjadi pemenang, untuk mewujudkan Indonesia lebih baik.

“Apabila konvensi dilakukan maka akan membuka peluang Jokowi berhadapan dengan Megawati, Pryo Budi Santoso dan Aburizal Bakrie, Hary Tanoesoedibjo dan Wiranto, Lukman Hakim Saefudin dan Suryadharma Alie, Khofifah Indar Parawansa dan Muhaimin Iskandar,” katanya.

Menurut dia, apabila elektabilitas para ketua umum parpol tidak kunjung naik, maka kader muda terbaik itu dijadikan sebagai capres alternatif sebagai jawaban kegamangan masyarakat terhadap capres yang masih didominasi wajah-wajah lama. (MI/Ant)