Ini Kisah JK Kepada M. Nuh, Kala Ia Masih Aktif di HMI

Foto: sayangi.com/istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla, bertemu Mendiknas Muhammad. Nuh, saat pelepasan KKN Kebangsaan di Universitas Hasanuddin Makassar, Sabtu (26/10/2013). Keduanya pun terlibat perbincangan seputar Ujian Nasional (UN) dan suasana yang berkembang pada saat berlangsung Konvensi Ujian Nasional 29 September 2013 lalu di Jakarta.

Saat itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Listyarti walk out dari Konvensi karena menilai pembicara yang diundang pada acara konvensi tidak seimbang dan lebih banyak yang pro UN. JK menurut Retno, adalah seorang politisi dan tidak kompeten melakukan kajian terhadap UN secara akademik.

Di depan Muhammad Nuh, JK tertawa menanggapi aksi Retno tersebut.

“Saya tidak memberi jawaban ketika itu, karena Retno langsung keluar ruangan, kata JK. Tapi saya mau sampaikan agar Pak Menteri tahu bahwa saya sangat berkomepeten bicara pendidikan. Sebab mungkin Retno belum lahir, saya sudah jadi guru SMA,” kata JK, dalam keterangan tertulis yang diterima Sayangi.com, di Jakarta, Minggu (27/10/2013).

JK pun memulai kisahnya.

“Ceritanya awal tahun 60an, kami Aktivis HMI Cabang Makassar prihatin dengan mutu pendidikan SMA di kota tersebut. Karena itu, saya membentuk Tim Pengajar HMI. Yang bertugas mengajar di sejumlah sekolah di Makassar, dengan harapan mutu SMA dapat didongkrak. Dan saya sendiri mendapat bagian mengajar sekolah sekolah SMA Islam khususnya mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi.

Saya dipercaya mengajar kedua mata pelajaran tersebut karena sewaktu SMA untuk mata pelajaran ini saya dapat nilai tinggi untuk Sejarah dan ilmu Bumi, kalau tidak salah dapat nilai 8.

Jadi jangan pernah menyebut saya tidak kompeten bicara pendidikan.

Saya juga di akhir tahun 60 selepas kuliah S1 di Unhas, langsung diangkat jadi dosen Unhas. Tapi cuma setahun saya berhenti, karena sulit menyesuaikan waktu. Lalu ditunjuk lagi asisten dosen untuk Bung Hatta (Proklamator RI) di Universitas Hasanuddin yang sempat saya lakoni selama dua tahun. Dan pada tahun 70an, saya dua tahun menjadi dosen Universitas Muslim Indonesia di Makassar.”