Mengenal Jurnalisme Sastra dari Dunia Kampus

Semarang – Sayangi.com – Jurnalisme sastra merupakan genre jurnalistik baru di Indonesia dibandingkan dengan di Amerika yang sudah lebih lama menggunakannya. Ia sebuah liputan yang disajikan secara mendalam dengan gaya bahasa memikat dan mengalir.

Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Pers Mahasiswa IDEA IAIN Walisongo, Semarang, Miftahul Arifin saat membuka Pelatihan Jurnalisme Sastra, di Wisma Walisongo, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (27/10/2013).

Dijelaskan Arifin, bila penulisan jurnalistik pada umumnya terkesan kaku, hanya menampilkan fakta, maka penulisan dalam genre ini jauh dari kesan kaku. Jurnalisme sastra mampu menggambarkan emosi orang-orang yang terlibat di dalamnya dengan latar peristiwa dengan lebih detail.

“Persyaratan jurnalistik seperti fakta, objektivitas tetap menjadi penting. Dalam jurnalisme sastra, pencarian realitas faktual menjadi pekerjaan yang lebih luas. Sedangkan jurnalis sendiri dituntut memiliki keterampilan dalam teknik menulis laporan jurnalistik dan berbahasa yang sempurna,” paparnya.  

Untuk itu, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) IDEA IAIN Walisongo, Semarang bekerjasama dengan Epicentrum Kebangsaan (CenSa) mengadakan Pelatihan Jurnalisme Sastra. Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber; Imam Sofwan (Direktur Yayasan Pantau). Kegiatan ini diikuti 40 mahasiswa yang aktif di Pers Kampus se-Jawa Tengah. Pelatihan ini akan berlangsung selama dua hari, 26-27 Oktober 2013.

Dalam sambutannya, Koordinator Epicentrum Kebangsaan (CenSa) Mahadi Rahman Harahap menyambut baik ajakan kerjasama antara LPM IDEA IAIN Walisongo dengan CenSa. Dijelaskan dia, komunitas kreatif anak muda yang berminat di bidang jurnalistik ini positif bagi masa depan mahasiswa itu sendiri agar memiliki bekal dalam dunia kerja kelak.

Mahadi menambahkan, kegiatan seperti ini merupakan salah satu program CenSa yang rutin diadakan setiap bulan, yakni Pengembangan Diri Anak Muda (PDAM). Selain itu ada juga program Sekolah Pemimpin Muda Indonesia (SPMI), Festival Seni Budaya Kreatif (FesBuK), dan Dialog Kebudayaan (DiKebud).

“CenSa sendiri konsen untuk mengembangkan kapasitas dan kreatifitas anak muda. Dimana hal itu sejalan dengan visi Aburizal Bakrie (ARB), calon presiden Partai Golkar yang begitu peduli dengan pembangunan sumber daya manusia terutama anak muda,” demikian Mahadi.

Berita Terkait

BAGIKAN