Vettel Terkenang Masa lalu Ketika Simpan Poster Schumi

Foto: www.spox.com

Greater Noida, India, Sayangi.com – Sebastian Vettel memutar ulang kenangannya, ketika ia memasang gambar Michal Schumacher di ruang kamar tidurnya dan bermain dengan mobil-mobilan kecil di tanah – sampai akhir berjuang keras untuk memenangi perlombaan Minggu.

“Saya terkenang dengan masa lalu, saya tidak tahu apa yang akan saya ungkapkan, tapi ini merupakan hari terbaik dalam hidup saya,” kata pebalap Red Bull itu.

Pada usia 26 tahun, pebalap Jerman itu menjadi pengemudi keempat Formula Satu – setelah pebalap Argentina Juan Manuel Fangio, Schumacher dan pebalap Prancis Alain Prost – yang meraih empat gelar dan juga termasuk yang termuda.

Kemenangan Vettel di India Grand Prix merupakan yang keenam berurutan, dalam 10 musim, dan yang ketiga dalam tiga penampilan di Sirkuit Internasional Buddh. Belum ada pebalap lain yang memenangi lomba di situ sebanyak tiga kali.

Untuk membandingkan karir Vettle yang meroket, Prost harus menunggu hingga berusia 26 tahun sebelum merayakan kemenangannya dalam perlombaan pertama grand prix. Vettel kini sudah memenangi 36 lomba.

Schumacher, pebalap pertama sebelumnya yang termuda memenangi empat perlombaan, harus menunggu hingga berusia 32 tahun untuk merayakan kemenangannya. Prost meraih kemenangan keempat ketika ia berusia 38 tahun dan Fangio saat berusia 45 tahun.

“Ini amat sulit dimengerti, karena ketika itu saya masih kanak-kanak, tapi sekarang orang minta berfoto dengan saya,” katanya.

Vettel memiliki pengetahuan detil tentang olahraga itu dan ia bicara dengan rendah hati sampai akhirnya ia menjadi terkenal seperti sekarang ini.

Ia mengetahui bagaimana pebalap Inggris Stirling Moss belum pernah tampil sebagai juara tetapi memiliki perasaan luar biasa terhadap olahraga itu.

Moss menempati posisi runner-up dalam empat kejuaraan antara 1955 dan 1958, di antaranya kalah atas Fangio tiga kali.

“Memenangi empat gelar, saya tidak mengerti, itu jumlah yang besar,” kata Vettel dalam temu pers.

“Bergabung bersama orang besar seperti (Moss)…Michael, Fangio, Prost. Itu merupakan hal sulit bagi saya saya. Saya terlalu muda untuk mengerti apa artinya dan apa yang terjadi,’ katanya.

“Suatu ketika saya akan berusia 60 tahun dan baru akan mengerti, ketika orang tidak peduli..saya baru akan peduli,” tuturnya.

Kendati ia masih terlalu muda, Vettel mengatakan ia sedang berkembang dan ia pun mengerti mengapa ketika naik podium ia disoraki dengan nada mengejek oleh penonton khususnya ketika di Monza dan Singapura.

“Disoraki ketika kita merasa tidak melakukan kesalahan memang sulit dimengeri. Tapi saya kira hal itu saya jawab dengan apa yang saya buat di lintasan dan menggembirakan saya,” katanya.

“Saya tidak menyalahkan orang yang mengejek saya, Anda tahu,” tambahnya, “Bila saya menonton sepak bola di stadion, contohnya, saya bersorak mendukung tim tuan rumah…pemain pencetak gol kurang kita hargai dan kita bersorak karena mengikuti orang lain yang bersorak.” Vettel menjelaskan ada seorang pendukungnya yang mengirim surat setelah ia tampil di Singapura, mengatakan ia minta maaf karena aksi mengejeknya.

“Saya kira bila orang memikirkan hal itu, mereka akan mengerti. Tetapi pada saat seperti itu tidak ada orang yang perlu disalahkan. Seseorang memulainya dan orang lain memulainya dan ada juga yang tidak mengikutinya,” kata pebalap Red Bull itu.

“Itu bisa saja terjadi. Bila pendukung Ferrari, misalnya, tentu tidak ingin orang lain menang. Itu bukan salah saya, saya cukup matang untuk memahami hal itu,” katanya.

Di India pada perlombaan Minggu, tidak ada sorakan mengejek, hanya sorakan dengan nada mendukung. Dan pebalap muda Jerman itu mendapatkan dukungan penuh dari penonton.

Berita Terkait

BAGIKAN