Australia Bisa Jadi Lumbungnya ASEAN

Foto: wickedreport.com

Jakarta, Sayangi.com – Australia bisa menjadi mitra utama ASEAN memperkuat dalam ketahanan pangan, sehingga mengubah citra ekonomi negara itu yang pernah mengandalkan komoditas hasil tambang (mining boom) menjadi penyuplai bahan makanan.

Khususnya penyuplai makanan bagi 600 juta penduduk ASEAN, terutama Indonesia, kata Dubes RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema. Pernyataan Dubes Nadjib itu disampaikan dalam “JCU Asian Market Forum” yang diselenggarakan di Kota Townsville, Queensland Utara, 24 Oktober 2013 lalu.

Dubes RI menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir ini hubungan bilateral Indonesia-Australia semakin baik dan kuat, hal ini ditandai dengan rutinnya penyelenggaraan beberapa pertemuan tahunan yaitu “The Annual Leaders Meeting, the 2 + 2 Meeting of Defense and Foreign Ministers serta Indonesia-Australia Dialogue” serta berbagai pertemuan para menteri ekonomi.

Dinyatakan pula, masih banyak kalangan memandang sebelah mata hubungan Ekonomi khususnya bidang perdagangan, investasi dan interaksi ekonomi antara Indonesia-Australia. Namun kunjungan resmi ke Jakarta dan kehadiran PM Tony Abbott pada KTT APEC di Bali telah menunjukkan adanya kesungguhan pemerintah Australia bahwa tahun-tahun mendatang akan dipenuhi dengan komitmen, komunikasi dan kebijakan yang saling mendukung diantara kedua belah pihak.

Waktu yang tepat Saat ini adalah waktu yang tepat bagi pengusaha Australia untuk membangun hubungan erat dengan mitranya dari Indonesia sebagamana yang seharusnya dilakukan dua tetangga dekat. Kedua negara juga telah banyak berupaya melibatkan perusahaan, kamar dagang, dan kelompok lobi perdagangan atau yang dikenal dengan “second track diplomacy” sehingga menempati posisi yang lebih baik demi kesejahteraan rakyat kedua negara.

Dubes Nadjib juga menyampaikan bahwa salah satu target yang ingin dicapai dalam masa tugasnya adalah menghasilkan jumlah transaksi perdagangan dan geliat investasi yang setidaknya proporsional dengan kemampuan ekonomi Indonesia di Asia Tenggara dan secara tepat mencerminkan kedekatan fisik dan eratnya hubungan antara Indonesia dan Australia.

Dengan semakin berkembangnya gaya hidup rakyat Indonesia, Dubes Nadjib mengingatkan kembali para pengusaha Australia untuk segera meninggalkan “post-mining boom” dan bersiap untuk menikmati “dining boom” di Indonesia.

Pemerintah Indonesia dan Australia telah melihat ketahanan pangan sebagai sebuah jembatan potensial untuk bekerja sama dan berinisiatif untuk membentuk “The Six Year Indonesia-Australia Rural Development Program” untuk menaikkan pendapatan peternak serta “the Indonesia- Australia Red Meat and Cattle Forum” untuk meningkatkan investasi peternakan di Indonesia.

Secara terpisah Pemerintah Indonesia telah menyiapkan program MP3EI dengan dua koridor di Indonesia Timur yang dapat dimanfaatkan oleh Australia karena kedekatan geografis yang ada.

Dubes Nadjib menekankan kembali bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat bagi pengusaha dan rakyat kedua negara untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara karena kondisi hubungannya sedang bagus, situasi politik sedang kondusif, ekonomi kedua negara diakui sebagai anggota G-20 dan memiliki pertanian yang sama kuat serta mempunyai industri yang berbasis sumber daya. (MSR/ANT)