Tamatnya Perlawanan Bo Xilai, Putra 8 Dewa Komunis Cina

Foto: Reuters

Beijing, Sayangi.com – Akhir pekan ini, Pengadilan Cina akhirnya menolak banding yang diajukan Bo Xilai dan memastikan dia divonis seumur hidup. Vonis itu sekaligus menandai perlawanan bekas tokoh Partai Komunis Cina yang terkenal karena ingin “menghidupkan kembali Mao”.
 
Sampai tahun 2012, Bo memimpin kota megapolitan Chongqing dan dikenal sebagai salah satu politisi tertinggi di partai komunis yang berkuasa, namun bintang itu akhirnya jatuh setelah rangkaian kasus pembunuhan atas seorang pengusaha Inggris ternyata melibatkan istrinya.

Melalui proses pengadilan yang terbuka dan belum pernah terjadi sebelumnya di Cina, Bo dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan tuduhan menerima suap, penggelapan, dan penyalahgunaan kekuasaan bulan lalu. Dalam proses banding akhir pekan ini, pengadilan tinggi memperkuat vonis hukuman seumur hidup, yang menurut para analis telah betul-betul menghapus peluang bekas tokoh muda komunis itu untuk kembali ke panggung politik.

“Berbagai fakta dari putusan tingkat pertama jelas, bukti-buktinya bisa dipercaya, dan hukuman untuk itu pantas,” demikian isi keputusan pengadilan tinggi Shandong, sebagaimana dimuat dalam situs resmi mereka. “Aturan pengadilan sebagai berikut: menolak banding, menjunjung tinggi keputusan sebelumnya. Vonis ini adalah putusan akhir.”

Bo, sebelumnya menyajikan 14 alasan banding, termasuk diantaranya bahwa pengakuan yang ia sampaikan di dalam tahanan “dibuat di bawah tekanan dari para pejabat yang menangani kasus ini, dan karenanya pengakuan itu sebagai bukti harus diabaikan.”

Siaran CCTV Pemerintah memperlihatkan Bo yang hadir di pengadilan dengan tangan terborgol, mengenakan jaket hitam dan tersenyum, saat diapit dua polisi yang tinggi menjulang dan mengenakan sarung tangan putih. Pada akhir persidangan yang berlangsung kurang dari satu jam, kedua polisi itu menggiring laki-laki berusia 64 tahun itu keluar dari ruang sidang dengan mencengkeram lengan dan bahu Bo.

Gambar video itu juga memperlihatkan anak laki-laki tertua Bo yakni Li Wangzhi hadir di pengadilan, bersama-sama anggota keluarga lainnya. Pengamanan berat digelar di sekitar pengadilan di Jinan, ibukota Shandong di sebelah timur Cina, dengan ratusan petugas polisi berjaga pada setiap jarak beberapa meter di sekitar gedung dan mengelilingi jalan-jalan yang ditutup. Toko-toko yang ada di dekat lokasi juga ditutup.

Pengadilan, yang dikontrol ketat oleh partai yang berkuasa – tidak memiliki kewajiban lebih lanjut untuk mempertimbangkan kembali kasus ini setelah proses banding, demikian kata para pengacara, dan Bo kelihatannya tidak mungkin lagi akan bisa tampil di depan umum.

Kejatuhan spektakuler Bo dari panggung politik Cina memperlihatkan pertarungan yang terjadi dalam proses transisi kekuasaan di dalam Partai Komunis Cina (PKC). Para analis menyebut vonis atas Bo ini adalah hasil dari proses tawar menawar diantara elit partai – yang beberapa diantaranya dianggap masih dekat dan bersekutu dengan Bo.

“Ini adalah kasus politik, vonis seumur hidup itu diputuskan oleh kesepakatan diantara para pemimpin, dan bukan oleh pengadilan,” kata Willy Lam, seorang pengamat terkemuka Cina di Chinese University of Hong Kong. “Presiden Cina Xi Jinping menggunakan hukuman yang sangat berat ini sebagai sebuah peringatan agar tidak menentang kepemimpinan (PKC),” tambah dia.

Bo masih mendapat dukungan dari sejumlah anggota elit PKC, kata Zhang Ming, seorang profesor di Renmin University, Beijing, tapi ia menambahkan: “Para pendukung Bo akan mengekspresikan pandangan mereka dengan diam-diam dan tidak di depan umum.”

Ayah Bo dikenal sebagai salah satu dari “Delapan Dewa” Komunis Cina dan merupakan pemimpin revolusi terkenal, dijungkalkan dari panggung politik tahun lalu. Kebijakan populis Bo saat memimpin Chongqing membuat ia mendapat dukungan di seluruh negeri. Tapi pendekatannya yang secara terbuka memperlihatkan sikap ambisius membuat para elit partai lainnya terasing. Selain itu, pendekatan politik Bo yang ingin menghidupkan kembali “budaya merah” Mao dilihat oleh elit partai sebagai ancaman untuk mengembalikan Cina ke masa lalu. (MSR/DeutscheWelle)